Angkatan Udara Inggris menambah pasokan kekuatan udara mereka di Siprus dengan sejumlah jet tempur Tornado dan Typhoon setelah negara itu memutuskan untuk memperluas kampanye udara melawan ISIS ke Suriah. Selama ini mereka hanya terbatas melakukan di langit Irak. Tornado masih tetap menjadi pilihan. Termasuk juga Jerman yang juga mengirimkan dua jet tempur ini untuk misi pengawasan.
Sayap ayun Tornado, yang juga dikenal dengan sebutan Tonka, merupakan pesawat yang sebenarnya sudah veteran. Tetapi masih terbukti memiliki kemampuan yang tidak dimiliki pesawat lain.
Pesawat ini melihat pertempuran pertama dengan Royal Air Force dalam Perang Teluk 1991. Dua varian yakni serangan darat dan pertahanan udara. Awalnya dibangun pada akhir 1960-an pesawat ini didedikasikan untuk serangan jauh ke wilayah negara-negara Pakta warsawa. Tetapi desain sayap ayun Tornado memungkinkan untuk terbang kecepatan supersonik di ketinggian rendah, sehingga cocok untuk misi serangan. Armada RAF adalah varian Tornado GR4 dengan kemampuan serang di egela cuaca serta untuk misi pengawasan.
Tonkas Angkatan Udara Inggris telah menjadi pengunjung tetap ke AS untuk mengikuti latihan besar termasuk Red Flag di Nellis AFB, Nevada. Meskipun jumlahnya secara berangsur terus berukurang digantikan Eurofighter Typhoon, tetapi RAF masih mengandalkan GR4 di sejumlah misi. Misi ke Suriah adalah sebagian dari misi panjang 36 tahjun mereka dalam layanan RAF.
[youtube id=”IlZMeOdE0GE” width=”600″ height=”340″ position=”left”]
Di Inggris, GR4 terbang rendah menjadi pemandangan yang kerap terlihat dan GR4 juga digunakan untuk melakukan pertunjukan udara rutin rutin yang biasanya menggunakan dua pesawat. Video di atas menunjukkan Tornado dengan suara menggelegar dari dua mesin Rolls Royce RB19 take off untuk misi serangan mereka ke Suriah awal Desember 2015 lalu.

