Klaim Angkatan Udara India yang dengan berani menyatakan Su-30Mk1 mereka mampu mengalahkan telak Eurofigter Typhoon dalam latihan Indradhanush 2015 di Inggris terus jadi sorotan banyak pihak. Klaim kemenangan 12-0 jelas sulit diterima meski juga sulit untuk dicari kebenarannya.
David Cenciotti dari The Aviationist mencoba menganalisa tentang apa yang terjadi di balik klaim semacam ini. Pertama-tama dia menyatakan bahwa, tujuan dari latihan tersebut biasanya untuk mempelajari lawan, belajar taktik dan strategi mereka, kadang-kadang tanpa menunjukkan semua kemampuan sistem senjata ke “musuh”. Meski David juga mengakui hal ini menjadi alasan paling gampang untuk mengomentari dugaan kekalahan.
Kemudian, rasio kill tergantung pada bagaimana skenario telah dibentuk, dengan Role Of Engagement mempengaruhi jumlah membunuh simulasi.
Sebenarnya, ini bukan pertama kalinya Angkatan Udara India secara terbuka mengklaim kemenangan tetapi juga diperdebatkan. Selama Cope India 04, India mengklaim Su-30 mampu mencapai rasio kill 9: 1 terhadap jet AS F-15C Wing 3 Angkatan Udara AS yang berbasis di Elmendorf Air Force Base, Alaska.
Dalam hal ini, rasio membunuh tersebut memang dikonfirmasi tetapi juga dijelaskan bahwa F-15 dikalahkan karena mereka tidak menggunakan radar active electronically scanned array (AESA) yang canggih untuk melawan Su-30-an dalam skenario yang melibatkan enam Eagle melawan 18 pesawat IAF.
Selain itu India kala itu meminta agar tidak mensimulasikan taktik pertempuran di luar jangkauan visual. Hal lain yang juga menjadi pertimbangan kenapa Eagle memilih untuk berposisi lemah di depan Flanker karena saat latihan digelr di Pentagon tengah berlangsung pembahasan anggaran untuk F-22. Beberapa analis menyatakan Angkatan Udara sengaja menerima tantangan ROE (Rules Of Engagement) dari India meski tidak menguntungkan agar bisa menjadi alasan untuk bisa mendapatkan lebih banyak Raptor.
Yang pasti klaim kemenenangan dalam latihan tempur adalah sebatas klaim yang sulit untuk dibuktikan dan lebih sering digunakan untuk “propaganda” termasuk untuk mendongkrak penjualan.
“Klaim semacam itu tidak bisa dijadikan pegangan kecuali kita memiliki beberapa rincian tentang skenario, aset pendukung yang terlibat dalam latihan [AWACS, platform Warfare Elektronik, kontrol darat dll] dan ROE,” tulisnya Sabtu 8 Agustus 2015.
Mengutip sumber RAF, David menyebutkan berurusan dengan ROE, Typhoon berjuang “dengan satu tangan di belakang punggung mereka.”
Selain itu, dalam pertempuran jarak pendek di mana super-bermanuver Su-30 unggul maka situasi berbeda jika dalam pertarungan BVR (Beyond Visual Range) di mana Flanker akan jauh lebih rentan.

