Berbicara di pameran Langkawi International Maritime and Aerospace (LIMA) 2019 lalu, perwakilan BAE Systems mengkonfirmasi bahwa perusahaan tersebut menawarkan desain kapal induk Queen Elizabeth kepada Angkatan Laut India.
India saat ini memiliki satu kapal induk dalam pelayanan yakni INS Vikramaditya seberat 45.000 ton yang dulunya adalah kapal induk Soviet Kelas Kiev Admiral Gorshkov. Kapal induk ini diperkuat dengan sayap tempur MiG-29K serta sejumlah helikopter.
India saat ini juga membangun kapal induk kedua, Vikrant INS seberat 40.000 ton dan diperkirakan akan memulai uji coba laut pada tahun 2020.
Namun, Pemerintah India memiliki persyaratan untuk kapal induk ketiga yang lebih besar yakni di kelas 65.000 ton, yang dikenal sebagai INS Vishal. Seperti Vikrant, kapal akan dibangun secara lokal, di galangan kapal Cochin.
Perwakilan BAE Systems di LIMA mengatakan perusahaan telah mengadakan pembicaraan dengan Angkatan Laut India tentang potensi turunan Militer Off the Shelf (MOTS) dari desain Kelas Queen Elizabeth 65.000 ton Angkatan Laut Inggris diadaptasi untuk memenuhi persyaratan India.
“BAE Systems dengan senang hati telah memulai diskusi dengan India tentang potensi untuk mendasarkan pengembangan proyek Indigenous Aircraft Carrier (IAC-2) kedua pada desain kelas Queen Elizabeth,” kata perwakilan tersebut sebagaimana dikutip Australian Defense Kamis 4 April 2019.
“Desainnya dapat disesuaikan untuk menawarkan ski jump atau peluncuran catapult dan dapat dimodifikasi untuk memenuhi Angkatan Laut India dan persyaratan industri lokal.”
Perusahaan ini telah menikmati kesuksesan internasional baru-baru ini dalam ekspor desain kapal perang anti-kapal selam Global Combat (Royal Navy Type 26) ke Australia dan Kanada, untuk di bangun di galangan kapal lokal.
“Desain kapal induk Inggris kini telah terbukti di laut dan hampir sesuai dengan persyaratan Angkatan Laut India untuk pengangkut 65.000 ton dengan Integrated Full Electric Propulsion (IFEP), yang dapat dibangun di bawah program ‘Make in India’ di negara itu, ” kata perwakilan itu.
Dia mengatakan bahwa BAE Systems percaya bahwa risiko, biaya, dan jadwal untuk program IAC-2 akan bisa dikurangi secara signifikan melalui kerjasama dengan Inggris.

