For full functionality of this site it is necessary to enable JavaScript. Here are the instructions how to enable JavaScript in your web browser.

Bagaimana Jika Konflik Soviet-China Tahun 1969 Pecah Menjadi Perang?

Amerika lebih mengingat krisis rudal Kuba sebagai momen paling berbahaya di Perang Dingin yang nyerempet bahaya.

Meskipun beberapa saat tegang, Washington dan Moskow akhirnya bisa menyelesaikan krisis dengan hanya jatuh satu korban yakni pilot Angkatan Udara AS Mayor. Rudolph Anderson Jr.

Tujuh tahun kemudian, pada bulan Maret 1969, Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) menyerbu sebuah pos perbatasan Soviet di Zhenbao Island, menewaskan puluhan orang dan melukai puluhan yang lain.

Insiden ini membawa Rusia dan China ke ambang perang, konflik yang mungkin bisa menyebabkan penggunaan senjata nuklir. Tapi setelah dua minggu bentrokan, konflik terhenti.

Bagaimana jika konflik singkat 1969 antara China dan Uni Soviet kala itu terus meningkat menjadi perang terbuka? Apa yang kira-kira akan terjadi?

Sejarah Konflik

Insiden di Zhenbao Island, di mana penyergapan awal dan sebagian besar pertempuran terjadi, menjadi titik nadir hubungan Soviet-China. Hanya sepuluh tahun sebelumnya, Beijing dan Moskow telah berdiri bergandengan tangan sebagai benteng dari dunia komunis.

Perebutan ideologi, kepemimpinan dan sumber daya, namun, mengakibatkan perpecahan tajam antara sekutu yang memiliki dampak global. Perpecahan diperburuk sengketa teritorial yang telah ada sejak zaman kekaisaran dan Imperial.

Perbatasan yang panjang, kurang dibatasi dengan tegas telah meninggalkan banyak zona abu-abu di mana China dan Uni Soviet saling mengklaim kedaulatan.

Setelah beberapa insiden kecil, insiden Pulau Zhenbao menjadi ketegangan tinggi. Sebuah serangan balik Soviet memunculkan korban serius, seperti yang dilakukan insiden serupa di Xinjiang pada bulan Agustus.

Sebuah konsensus muncul di kedua sisi bahwa pemimpin China siap untuk melakukan bentrokan. Mengapa China berani memprovokasi tetangga mereka jauh lebih kuat? Dan bagaimana jika Soviet merespon lebih agresif atas provokasi China?

Dalam ketegangan tinggi baik Uni Soviet dan China siap untuk perang, dengan Tentara Merah dikirim ke Timur Jauh dan PLA melakukan mobilisasi penuh. Soviet menikmati keunggulan teknologi luar biasa atas China pada tahun 1969.

Namun, Beijing telah membangun tentara terbesar di dunia dan banyak ditempatkan di perbatasan Sino-Soviet. Sebaliknya kekuatan Tentara Merah banyak terkonsentrasi di Eropa Timur karena harus bersiap konflik dengan nATO. Akibatnya, pada saat bentrokan, cukup masih akal China mengklaim superioritas konvensional di banyak perbatasan.

Keunggulan jumlah personel China tidak berarti bahwa PLA bisa mempertahankan serangan Uni Soviet. China kekurangan logistik dan kekuatan udara yang diperlukan untuk merebut sejumlah besar wilayah Soviet. Selain itu, perbatasan Sino-Soviet sangat panjang memberi kesempatan yang luas untuk respons Soviet. Dengan serangan NATO tidak mungkin terjadi secara bersamaan, Soviet bisa mentransfer pasukan besar dari Eropa, menyerang ke Xinjiang dan titik barat.

Jalan yang paling penting dari potensi titik pertempuran terletak di Manchuria, di mana Tentara Merah telah meluncurkan operasi ofensif cepat di hari-hari memudarnya Perang Dunia II.

Meskipun PLA tahun 1969 memiliki harapan yang lebih baik untuk menghentikan ofensif seperti dari Tentara Kwantung pada tahun 1945, dan hilangnya Manchuria akan terbukti menghancurkan kekuatan ekonomi China dan legitimasi politik.

Dalam kasus apapun, kekuatan udara Soviet akan membuat angkatan udara China tidak berumur panjang, menundukkan kota China, pusat komunikasi dan pangkalan militer dengan serangan udara yang besar.

nuklir

Nuklir?

China menguji perangkat nuklir pertama pada tahun 1964, secara teoritis memberikan Beijing kemampuan nuklir. Namun, sistem pengiriman mereka tertinggal banyak karena masih menggunakan rudal bahan bakar cair yang memerlukan waktu beberapa jam untuk mempersiapkan, dan yang hanya bisa tetap di landasan peluncuran untuk waktu terbatas.

Selain itu, rudal China kala itu masih sangat pendek dalam kisaran sehingga sulit untuk menyerang sasaran penting Rusia di Eropa.

China memiliki bomber dengan jumlah yang sangat terbatas yakni Tu-4 (salinan Soviet dari B-29 AS) dan H-6 (salinan dari Tu-16 Badger)  yang tentu akan bernasib sangat buruk di depan sistem pertahanan Soviet.

Soviet, di sisi lain, berada di ambang mencapai paritas nuklir dengan Amerika Serikat. Uni Soviet memiliki senjata nuklir taktis dan strategis modern di gudang senjata mereka yang dengan mudah menghancurkan penangkal nuklir China, formasi militer inti dan kota-kota utama.

Dengan alasan sensitif terhadap opini internasional, kepemimpinan Soviet akan menolak meluncurkan serangan nuklir skala penuh terhadap China tapi memilih serangan terbatas terhadap fasilitas nuklir China, serta serangan taktis terhadap pasukan China yang dikerahkan mungkin lebih masuk akal.

Amerika Serikat akan hati-hati bereaksi terhadap masalah ini. Sementara konflik perbatasan meyakinkan Washington bahwa Sino-Soviet perpecahan tetap berlaku, pejabat tidak setuju atas kemungkinan dan konsekuensi dari konflik yang lebih luas.

Melalui berbagai saluran resmi dan non-resmi, Soviet memeriksa sikap AS terhadap China. Konon, Amerika Serikat bereaksi negatif terhadap tawaran Soviet pada tahun 1969 tentang serangan bersama terhadap fasilitas nuklir China.

 

Facebook Comments