For full functionality of this site it is necessary to enable JavaScript. Here are the instructions how to enable JavaScript in your web browser.

Pecahkan Rekornya Sendiri, Pesawat Mata-Mata Ini Terbang 25 Hari Non-Stop

Zephyr

Pesawat terbang bertenaga surya milik Airbus, Zephyr sukses terbang selama 25 hari nonstop selama penerbangan uji coba di Yuma, Arizona mulai 11 Juli 2018. Penerbangan ini merupakan rekor tertinggi ketahanan pesawat mengalahkan rekor sebelumnya yakni 14 hari yang juga ditetapkan oleh Zephyr pada 2015.

Penerbangan panjang memiliki implikasi besar untuk pengawasan militer. Drones seperti Zephyr bisa berkeliaran di medan perang dengan intensitas rendah jauh lebih lama daripada drone saat ini. Sebagai perbandingan drone Reaper dengan daya tahan tinggi terbaru hanya mampu 40 jam di udara.

Zephyr yang digerakkan baling-baling merupakan kelas pesawat yang dikenal sebagai “high-altitude pseudo-satellites’ atau HAP. Bisa terbang setinggi 70.000 kaki selama berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan tanpa henti, HAP akan mampu melakukan banyak misi yang sama seperti yang dilakukan satelit yang ada di orbit rendah.

“Aplikasi utama HAP dalam telekomunikasi dan penginderaan jarak jauh, baik sipil maupun militer,” kata Flavio Araripe d’Oliveira, Francisco Cristovão Lourenço de Melo dan Tessaleno Campos Devezas dalam tulisannya di dalam makalah tahun 2016.

Dibandingkan dengan satelit komunikasi, HAP memiliki kelebihan latensi yang lebih rendah dan kemampuan untuk pemeliharaan atau rekonfigurasi. D’Oliveira, de Melo dan Devezas menjelaskan. untuk misi pengawasan, HAP dapat berlama-lama di area tertentu dan dapat menghasilkan gambar dengan resolusi yang lebih baik, karena mereka terbang lebih rendah daripada satelit.

Namun, HAP memang lebih rentan terhadap pertahanan musuh. Di mana satelit mengorbit ratusan mil di atas Bumi hingga di luar jangkauan persenjataan konvensional, Zephyr mencapai ketinggian maksimum 70.000 kaki, jauh di bawah langit-langit untuk sistem rudal pertahanan udara modern seperti S-300 Rusia. Selain itu drone juga lambat, dengan kecepatan jelajah hanya 20 mil per jam.

Zephyr dan drone layaknya satelit semu yang bisa sangat cocok untuk operasi di wilayah yang tidak mendapat perlindungan kuat. Pada tahun 2016, kementerian pertahanan Amerika membeli tiga Zephy dengan sekitar US$6 juta atau sekitar Rp87 miliar per unitnya untuk mengevaluasi mereka.

“Zephyr adalah perangkat yang canggih dan memecahkan rekor yang akan mampu mengumpulkan informasi yang konstan dan andal atas wilayah geografis yang luas dengan tingkat detail yang jauh lebih tinggi daripada sebelumnya,” kata Menteri Pertahanan Amerika saat itu Michael Fallon dalam sebuah pernyataan.

Zephyr

Airbus masih menyempurnakan Zephyr, khususnya konsumsi dayanya. Pada siang hari, drone menggunakan surya yang memiliki sayap selebar 82 kaki dan beratnya hanya 165 kilogram – dapat terbang setinggi 70.000 kaki sambil mengisi daya baterainya.

Setelah matahari terbenam, Zephyr menggunakan baterai  dan perlahan kehilangan ketinggian. Selama penerbangan Yuma yang mencatat  drone itu merosot serendah 50.000 kaki di malam hari.

Tantangan untuk Airbus adalah menyeimbangkan berat dan konsumsi daya untuk menghasilkan profil penerbangan yang optimal untuk tugas tertentu.

“Anda harus menemukan persamaan yang tepat antara ketinggian terbang ditambah daya tahan baterai, mempertahankan kekuatan ini atau itu,” kata Alain Dupiech, seorang juru bicara Airbus.

Tidak jelas berapa lama waktu tepat Zephyr bisa terbang. Baterai lithium-ion drone akhirnya mati, memaksanya mendarat untuk pemeliharaan. Namun teknologi baterai berkembang pesat, didorong sebagian oleh permintaan konsumen untuk mobil listrik hingga kemungkinan besar masalah ini bisa diselesaikan. Dalam jangka pendek, daya tahan maksimum mungkin bisa mencapai beberapa bulan. Airbus telah menjadwalkan penerbangan uji Zephyr berikutnya pada Oktober di Australia barat.

Facebook Comments