P-38 Lightning, Mematikan dan Bertempur di Mana-Mana

Bertentangan dengan kebanyakan pesawat lain yang dirancang dan digunakan dalam Perang Dunia II, P-38 Lightning yang dibangun Lockheed memiliki booming kembar. Pilot duduk antara mesin kembar, tidak ada apa pun di belakangnya kecuali udara dan stabilizer horizontal yang menghubungkan boom di bagian belakang.

P-38,  menjadi pesawat tempur yang begitu dihormati  dan terbang di setiap teater perang. Pada akhir 1930-an, Angkatan Udara Amerika melihat perlunya pesawat tempur interseptor ketinggian dengan kecepatan tinggi, daya tembak kuat, dan jangkauan jauh.

Masalahnya, mesin pesawat baling-baling sudah sampai ke puncaknya dan sulit untuk ditingkatkan lagi. Akhirnya muncul gagasan bahwa menggunakan dua mesin lebih baik dari satu.

Maski ada banyak pesawat bermesin ganda, gagasan tentang booming kembar adalah hal yang benar-benar baru, Gil Cefaratt, yang bekerja di Lockheed pada tahun 1944 mengatakan desain ini, mengurangi hambatan. Selain itu landing gear dapat dipasang di kompartemen mesin, tidak di sayap.

Bahkan, P-38 adalah pesawat tempur pertama dengan tiga roda pendarat  dengan satu di depan dan dua di belakang. Ini memungkinkan pesawat untuk lepas landas dan mendarat dengan ekor setinggi hidungnya.

Kedua mesin juga mencerminkan fakta bahwa militer Amerika tertarik pada pesawat berat yang dilengkapi dengan baju besi yang akan melindungi pilot dan peralatan lain yang akan membuat mereka efektif dalam pertempuran.

P-38 tidak memiliki “joy stick ” untuk pilot, tetapi sesuatu yang lebih mirip dengan setir. Baling-balingnya berputar ke arah yang berlawanan yang berarti  torsi yang diciptakan oleh satu baling-baling dinegasikan oleh yang lain.

Dengan demikian pilot tidak harus berjuang melawan torsi saat ia mempercepat pesawat ketika tinggal landas. Pada tahun 1939, P-38 memecahkan rekor kecepatan untuk penerbangan lintas benua.

Tetapi ada masalah yang dimiliki P-38, yakni cara pilot harus melompat keluar ketika tertembak atau mengalami masalah mesin.  Ketika dia melompat dalam posisi pesawat biasa, maka dia akan berisiko ditabrak penstabil horizontal.

Akhirnya dibuat cara kuri pilot yang dilontarkan keluar. Kursi ini menjadi cikal bakal dari kursi ejeksi modern yang digunakan sekarang.

Langkah lain yang bisa dilakukan pilot adalah menempatkan pesawat ke dalam stall, kemudian merangkak keluar di sayap kiri dan melompat, atau membalikkan pesawat dan jatuh dengan berharap pesawat tidak akan berputar dan menghancurkan pilot beberapa detik kemudian.

Pilot yang paling sukses dengan P-38 adalah Richard Bong, ace tempur tersukses Amerika Serikat. Antara 27 Desember 1942  hingga 17 Desember 1944, ia menembak jatuh 40 pesawat Jepang yang masih merupakan rekor Amerika hingga saat ini.

Bong dianggap sangat sukses di P-38 karena keterampilan mata / tangan / kaki yang diperoleh ketika menangani mesin pertanian di pedesaan Wisconsin.

Dia lebih suka menadki dan kemudian menyelam ke pesawat Jepang, atau naik dengan cepat di bawah mereka. Dia tewas pada usia 24 di California pada hari bom Hiroshima dijatuhkan saat menguji jet tempur Lockheed yang pertama.

Sumber: National Interest

Facebook Comments