For full functionality of this site it is necessary to enable JavaScript. Here are the instructions how to enable JavaScript in your web browser.

Pertarungan Udara Rahasia Era Perang Dingin di Langit Soviet

MiG-17

Sebuah pesawat mata-mata U-2 Amerika yang dipiloti  Francis Gary Powers di atas wilayah udara Soviet pada tahun 1960 tidak diragukan lagi merupakan kasus paling terkenal dalam pertempuran udara di Era Perang Dingin.

Sebenarnya ada begitu banyak kasus lain yang menggambarkan perang udara telah terjadi di atas langit Uni Soviet dan sekitarnya. Jet tempur, pembom, pesawat mata-mata hancur diudara dan memunculkan korban jiwa.

Situasi sekarang telah mendekati era Perang Dingin di mana pertemuan udara antara pesawat Rusia dan Amerika serta NATO semakin sering terjadi. Kementerian Pertahanan Rusia melaporkan pekan ini bahwa 18 pesawat asing terdeteksi berusaha melakukan pengintaian di sepanjang perbatasan Rusia yang memaksa mereka mengirimkan jet tempur untuk mengidentifikasi dan mencegatnya. Bedanya, pencegatan masih terjadi di luar wilayah Rusia.

Pengamat militer RIA Novosti Andrei Stanavov menulis Minggu 29 Oktober 2017, pada awal Perang Dingin, tepatnya pada 29 Juli 1953, sepasang jet tempur MiG-17 dari Armada Pasifik Soviet tergesa-gesa terbang karena ada sebuah pesawat tak dikenal memasuki wilayah udara Soviet di atas Teluk Ussuri di luar Vladivostok.

Setelah dekat, pilot MiG melihat sebuah pembom besar bermesin empat besar terbang di ketinggian 10.000 meter di atas permukaan laut, menuju ke Pulau Askold, tepat di luar markas Armada Pasifik Rusia.

RB-50G Superfortress

Boeing RB-50G Superfortress milik USAF dan MiG Soviet tidak banyak basa-basi dan langsung adu tembak. Sebuah tembakan menabrak MiG yang  diterbangkan oleh Letnan Satu Alexander Rybakov. Untungnya, meski mengalami kerusakan, jet tempur tersebut masih bisa terbang.

Menyadari bahwa ruang untuk dialog telah habis, MiG kembali menembak. Dalam beberapa menit, Boeing, hancur berkeping-keping, jatuh ke laut. Dalam malapetaka tersebut, hanya satu awak pesawat USAF, co-pilot John Ernst Roche, yang selamat.

Dua tahun kemudian, pada bulan April 1955, pertempuran udara lainnya pecah, lagi-lagi di Timur Jauh, kali ini dekat Kamchatka. Pesawat mata-mata Amerika, RB-47E Stratojet  hancur setelah pertempuran singkat dengan sepasang MiG-15. Tiga awak pesawat tewas.

RB-47E Stratojet

Kemudian disusul pada 1 Mei 1960, saat pilot CIA Francis Gary Powers yang menerbangkan U-2C pada ketinggian 21 km ditembak jatuh oleh sebuah rudal anti-pesawat terbang Soviet. Kurang dari sebulan sebelum misi yang menentukan, Powers telah menemukan gambar rahasia berkualitas tinggi di lokasi uji coba rahasia nuklir dekat Semipalatinsk, Kazakhstan.

Sayap tempur dan baterai pertahanan udara Kazakhstan terbukti tidak mampu mengadang misi pesawat ini. Namun  rudal baru di dekat Sverdlovsk tidak akan membiarkan Powers lolos untuk kedua kalinya.

U2

Rudal S-75 Dvina  meraung ke langit sekitar pukul sembilan pagi, merobek ekor U-2. Rencana CIA yang direncanakan dengan hati-hati, yang dijuluki Operation Overflight kacau. Powers, yang melihat pesawatnya hancur berantakan dengan tenang menunggu untuk turun ke ketinggian yang aman sebelum melontarkan diri dari pesawat.

Tetapi penembakan itu juga membawa korban di pihak Soviet. Sebuah MiG-19 yang dipiloti Snr Lt. Sergei Safronov secara tidak sengaja ditembak jatuh oleh salah satu rudal yang dimaksudkan untuk Powers. Satu pesawat lain yang terbang mendampingi Safronov untuk mencegat Powers juga sempat menjadi sasaran tetapi masih bisa menghindar.

Insiden ini menyeret krisis politik tinggi. Meski awalnya Amerika membantah, tetapi dengan berbagai foto yang ditunjukkan Soviet, Presiden Amerika Dwight D. Eisenhower akhirnya tidak bisa mengelak lagi untuk mengakui keberadaan pesawat dan misinya.

Powers divonis 10 tahun penjara dan pada Februari 1962, ia bebas dengan ditukarkan mata-mata Soviet Rudolf Abel yang ditahan Amerika.

Hanya dua bulan setelah kisah Powers, pada  1 Juli 1960, sebuah Boeing B-47H Stratojet dari Wing Strategis Intelijen Udara ke-55 Amerika melanggar perbatasan Norwegia-Soviet. Pesawat itu dicegat dan dihancurkan oleh MiG-19 yang diterbangkan oleh Letnan Vasili Poliakov.

MiG-19

Dari enam awak pesawat Amerika, dua selamat tinggal – copilot Bruce Olmstead dan navigator John McKone. Keduanya ditangkap, menghabiskan beberapa bulan di sebuah penjara Soviet sebelum dibebaskan pada bulan Januari 1961. Sebulan setelah kejadian tersebut, pihak Soviet mengembalikan sisa-sisa salah satu anggota awak yang ditemukan dalam sebuah pencarian.

Perhatian khusus patut diberikan pada sebuah episode tragis yang melibatkan sebuah RF-4C Phantom II Iran yang menyerang wilayah udara Soviet pada bulan November 1973. Pembom tempur, yang co-pilotnya adalah orang Amerika  menimbulkan drama nyata di atas langit Transcaucasia.

F-4 Iran

MiG-21SM dikirim untuk mencegat pesawat  penyusup tersebut, dan melepaskan tembakan untuk membunuhnya. Tetapi tidak ada satupun tembakan yang mengenai sasaran. Kemudian, pilot MiG, Kapten Gennady Yeliseyev, mengambil langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah penerbangan jet supersonik yakni mengubah pesawatnya menjadi pemukul untuk menghantam pesawat Iran.

MiG-21

Pilot Rusia tewas karena tidak berhasil keluar dari pesawat. Sementara kru Phantom berhasil selamat dan ditangkap namun kemudian dilepaskan.

Facebook Comments