Penempatan sistem pertahanan rudal papan atas Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) di Korea Selatan mendorong Korea Utara untuk menciptakan senjata yang mampu membuatnya tidak berkutik.
Congressional Research Service Amerika Serikat melaporkan bahwa Pyongyang telah membuat rudal balistik dengan tujuan menetralisir kemampuan THAAD. Rudal ini akan terbang pada sudut di mana THAAD mungkin tidak dapat mencegat.
Begitu rudal balistik ini masuk kembali ke atmosfer bumi, hulu ledak nuklir yang menyertainya bisa terbang dengan sudut yang lebih curam dan bergerak dengan kecepatan lebih tinggi dengan bantuan energi gravitasi.
“Inovasi Korea Utara bisa membuat ancaman rudal ini berpotensi lebih sulit dicegat dengan sistem pertahanan rudal,” kata lembaga yang ada di bawah Kongres Amerika tersebut Kamis 4 Mei 2017.
Selain itu Korea Utara telah menunjukkan kemampuan untuk meluncurkan serangan salvo yang akan menyulitkan bagi THAAD untuk memblok semua rudal. Sementara satu rudal nuklir saja bisa lolos sudah akan menjadi bencana besar.
Korea Utara juga telah bereksperimen dengan sejumlah rudal balistik yang diluncurkan oleh kapal selam selama setidaknya dua tahun, yang bisa jatuh di luar kapasitas radar sistem THAAD.
Meski banyak pihak menyebut penembakan rudal Pyongyang hanyalah latihan, CRS mencatat bahwa penembakan tersebut sebenarnya bisa dimaksudkan untuk meningkatkan keandalan, efektivitas, dan kemampuan bertahan dari kekuatan rudal balistik mereka.
Peluncuran rudal hari Sabtu 29 April 2017, misalnya, dengan cepat disimpulkan sebagai sebuah kegagalan. Namun pakar pertahanan Korea Selatan tidak setuju dengan kesimpulan ini. Tes gagal itu memang dirancang untuk “mengembangkan senjata nuklir yang berbeda dari yang sudah ada.”
Badan Intelijen Pertahanan Amerika memperkirakan bahwa tumpukan nuklir Korea Utara berjumlah satu atau dua sebelum pergantian milenium, namun fisikawan nuklir David Albright memperkirakan bahwa angka tersebut berjumlah 30 saat ini, dan potensi mencapai 60 senjata nuklir pada akhir dasawarsa.

