Amerika Klaim Peroleh Bukti Keterlibatan Rusia dalam Peretasan Pemilu

Amerika Serikat terus bersikukuh menyatakan Rusia terlibat dalam peretasan yang mempengaruhi hasil pemilihan preside beberapa waktu lalu.

Sebagaimana dilaporkan Reuters Kamis 5 Januari 2016 mengutip sejumlah pejabat Amerika, sejumlah badan intelijen Amerika Serikat menyatakan memperoleh bukti bahwa Rusia adalah peretas surat elektronik Komite Nasional Partai Demokrat dan memberikannya kepada WikiLeaks melalui pihak ketiga. Bukti kuat itu diperoleh setelah pemilihan umum selesai.

Beberapa bulan sebelumnya, Amerika Serikat menuding intilejen Rusia di balik peretasan surat eletronik Partai Demokrat. Namun, mereka pada saat itu tidak yakin bisa membuktikan tindakan tersebut, yang dianggap menjadi sebab kegagalan calon presiden Hillary Clinton.

Sejumlah pemimpin parlemen, baik dari Kongres maupun Senat, termasuk tokoh dari Partai Republik, mendesak pemerintah segera melakukan penyelidikan.

Pada waktu sama, presiden terpilih Donald Trump meragukan kesimpulan dari badan intelijen Amerika Serikat, yang menyatakan Rusia membantu dia menang pemilihan umum dengan menghancurkan Clinton. Rusia hingga kini menolak terlibat.

Laporan dari intelejen Amerika Serikat itu akan disampaikan kepada Presiden Barack Obama pada Kamis dan kepada Trump pada Jumat, kata sejumlah pejabat yang menolak identitasnya terungkap.

Pejabat itu mengatakan bahwa bukti intelejen yang ada akan memberi kepastian bagi pemerintahan Obama mengenai seberapa jauh keterlibatan Rusia dalam peretasan surat elektronik dan bocoran pada masa pemilihan umum.

Pejabat itu menolak memberi gambaran mengenai bukti-bukti baru apa yang diperoleh oleh badan-badan intelejen Amerika Serikat, termasuk dalam keterlibatan pihak ketiga dalam proses pemberian informasi kepada WikiLeaks. Mereka mengaku tidak ingin mengungkap bagaimana Amerika Serikat mendapatkan bukti tersebut.

Dalam wawancara dengan FoxNews, pendiri WikiLeaks Julian Assange mengatakan tidak menerima “email” Komite Nasional Demokrat dari lembaga negara. Assange tidak membantah kemungkinan bahwa dia menerima bocoran tersebut dari pihak ketiga.

Pada Rabu, Trump membela pernyataan Assange dan kembali mempertanyakan kesimpulan bahwa Rusia membantu dirinya terpilih sebagai presiden.

Masalah mengenai peretasan pertama kali merebak pada Agustus, saat sejumlah badan intelijen menyimpulkan bahwa intelijen Rusia, atas perintah Vladimir Putin, berupaya mengganggu pemilihan umum Amerika Serikat.

Obama, pada Agustus, menolak saran sejumlah penasihatnya untuk mengungkap keterlibatan Rusia dan mengambil kebijakan yang dapat mencegah tindakan peretasan itu meluas. Obama justru berbicara langsung kepada Putin dan memperingatkannya.

Pada Oktober, Obama juga kembali memutuskan tidak mengambil tindakan karena takut dinilai membantu Clinton. Obama baru memutuskan kebijakan setelah Trump terpilih sebagai presiden.

Facebook Comments