Pyongyang Makin Galak, Korea Selatan Ingin Tambah 20 F-35

F-35i Israel / USAF

Aktivitas Korea Utara yang semakin garang membuat Angkatan Udara Korea Selatan mulai berpikir untuk kembali meningkatkan kekuatannya di atas dari yang telah direncana.

Jet tempur F-35A menjadi salah satu yang dilirik karena diyakini akan menjadi platform penting yang mampu menusuk ke wilayah lawan dan menghancurkan target.

Angkatan Udara Korea Selatan kini berpikir untuk menambah pembelian 20 jet tempur siluman tersebut.

Pejabat senior Angkatan Udara Korea Selatan meyakini penambahan ini akan meningkatkan kemampuan tempur udara jika terjadi perang dengan Korea Utara.

“Korea Utara tampaknya telah meningkatkan kemampuan nuklir dan rudal dalam beberapa tahun terakhir, kita harus memperbaiki program-program tempur jika terjadi perang terhadap Korea Utara,” kata seorang pejabat itu sebagaimana dikutip kantor berita Yonhap Selasa 13 September 2016.

F-35A akan menjadi bagian integral dari ini strategi pukulan maut untuk beroperasi wilayah berbahaya karena kemampuan stealthnya.

Korea Selatan dan Amerika Serikat sebelumnya telah menandatangani Letter of Offer and Acceptance untuk pembelian 40 jet tempur F-35A pada bulan September 2014. Sebuah kontrak telah ditanatangani pada 23 Agustus 2016 oleh Defense Security Cooperation Agency (DSCA) di bawah program Penjualan Militer Luar Negeri Pentagon.

Korea Selatan mengurangi rencana pembelian dari semula 60 hanya menjadi 40 dengan perjanjian antara Amerika Serikat dan Korea Selatan menyebutkan bahwa 20 jet tempur F-35A tambahan dapat diperoleh pada tahap berikutnya tergantung pada lingkungan keamanan di semenanjung Korea.

Angkatan Udara ROK mengharapkan untuk memulai menerbangkan F-35A pertama pada 2018 dengan 40 unit dijadwalkan seluruhnya telah dikirimkan pada 2021.

Lockheed Martin, produsen F-35, memenangkan kontrak senilai US$7 miliar dengan menjanjikan untuk memberikan 25 teknologi terkait F-35 untuk membantu membangun pesawat tempur dalam negeri KF-X.

Tujuan dari program pesawat KF-X adalah untuk membangun 120 jet tempur untuk Angkatan Udara Korea Selatan dan 80 untuk Angkatan Udara Indonesia antara tahun 2025 dan 2030.

Namun, Amerika Serikat menolak untuk membagi empat teknologi dari 25 yang dijanjikan. Empat teknologi tersebut adalah radar active electronically scanned, infrared search-and-rescue systems, electro-optical targeting pod dan radio frequency jammer.

Facebook Comments