F-105 Thunderchief: F-35 dari Perang Vietnam
F-105 Thunderchief

F-105 Thunderchief: F-35 dari Perang Vietnam

Jet tempur F-35 Joint Strike Fighter disebut-sebut tidak bisa melakukan manuver cukup cepat untuk mengalahkan F-16 yang jauh lebih tua dalam simulasi pertempuran udara. Meski laporan itu dibantah oleh Pentagon dengan sejumlah alasan.

Tetapi laporan itu tetap saja memunculkan pertanyaan bagaimana jet tempur generasi kelima itu bisa bertahan dalam pertempuran melawan jet tempur musuh yang lebih lincah seperti kebanyakan milik Rusia dan China?

Apa yang terjadi pada F-35 telah mengingatkan pada sejarah 50 tahun yang lalu yang dialami oleh jet tempur F-105 Thunderchief, sebuah pesawat teknologi tinggi pada eranya yang memiliki kemampuan serangan darat. Seperti F-35, seharusnya pesawat ini juga mampu mengalahkan pesawat tempur musuh.

Namun pada kenyataannya, F-105 – seperti F-35 – ternyata terlalu lambat untuk bisa mengalahkan MiG-21 buatan Rusia, saingan utama Thunderchief pada saat itu.

Angkatan Udara harus mempekerjakan taktik khusus untuk membantu F-105 bertahan hidup dalam pertempuran. Hal serupa yang juga harus dilakukan untuk F-35.

Kesamaan antara F-35 dan F-105 yang sangat mirip adalah “F-105 dan JSF sama-sama besar, pesawat satu kursi, mesin tunggal dengan kemampuan serangan darat, menggunakan mesin paling kuat pada eranya  [dan] dengan bobot kosong di kelas 27.000-pon, dan rentang sayapnya hampir sama pada 35 kaki,” kata Carlo Kopp, seorang analis kedirgantaraan Australia sebagaimana dikutip National Interest Selasa 4 Juli 2016.

“Keduanya mengusung teluk senjata internal dan beberapa cantelan eksternal untuk drop tank dan senjata,” lanjut Kopp. “Keduanya dimaksudkan untuk mencapai rentang tempur di kelas 400 mil laut. ”

Angkatan Udara Amerika memperoleh 833 F-105 dan kehilangan tidak kurang dari 334 pesawat ketika Perang Vietnam antara tahun 1965 dan 1970.

MiG Vietnam Utara menembak jatuh 22 Thunderchiefs sementara, menurut Kopp, F-105 menembak jatuh setidaknya 27 MiG. Paritas yang cukup dekat  dalam pertempuran udara ke udara.

Pentagon tidak puas dengan paritas yang sangat mepet ini. Untuk meningkatkan taktik, pada tahun 1969 Angkatan Udara melakukan simulasi pertempuran udara antara F-105 dan MiG-21 ex-Irak sebagai bagian dari program Badan Intelijen Pertahanan “Have Doughnut”.

MiG-21 didapat dari pilot yang membelot ke Israel membawa jet tempurnya.  Israel dengan murah hati meminjamkan jet tempur kecil dan lincah itu Amerika untuk dieksplorasi kemampuan dan kelemahannya.

Uji pertempuran tidak menunjukkan hasil baik untuk F-105. Para penguji menyarankan jika menghadapi MiG-21, awak F-105 harus mencoba untuk melarikan diri. Jika F-105 berada di belakang MiG-21 dan pilot MiG tidak menyadari, awak Thunderchief bisa mencoba melakukan penyergapan dengan kecepatan tinggi.

Tapi ketika F-105 dan MiG-21 memulai dari posisi yang sama dan berlawanan, pesawat Amerika akan dalam kesulitan.

“Jika F-105 mencoba untuk melakukan keterlibatan manuver berkepanjangan akan menjadi rentan karena situasi ofensif memburuk akibat kehilangan energi dan manuver,” tulis laporan Angkatan Udara.

Pilot tes F-35 JSF yang melakukan simulas pertempuran dengan F-16 melaporkan dinamika yang serupa.

Tapi F-105 menikmati keuntungan pada kecepatan garis lurus dibanding rivalnya, F-35 sebenarnya lebih lambat dari jet tempur hari ini seperti Sukhoi, Shenyang dan Chengdu. Untungnya, JSF adalah pesawat perang siluman, dengan fitur desain yang membantu menghindari deteksi oleh sensor jarak jauh pada kondisi tertentu.

Jika F-35 ingin bertahan hidup di perang di masa depan, operator harus menyusun taktik yang mengambil keuntungan dari atribut yang satu ini.

“Faktor yang menentukan untuk JSF dalam game ini akan kinerja siluman yang terbatas,” kata Kopp.