Salah satu perdebatan panjang terkait penerbangan tanpa awak yang hendak dibangun oleh Angkatan Laut Amerika selama ini pecah dalam dua cabang. Satu pihak menginginkan pesawat tanpa awak yang berbasis kapal induk yang dibangun dalam program Unmanned Carrier-Launched Airborne Surveillance and Strike (UCLASS) menginginkan pesawat siluman dengan kemampuan tempur. Sementara pihak yang lain menginginkan pesawat itu fokus pada misi mata-mata dengan kemampuan gambar tinggi dan memasok data secara real time.

Begitu sengit perdebatan itu hingga akhirnya rencana Angkatan Laut untuk mengumumkan program tersebut tertunda dari rencana akan dilakukan pada 2014 lalu. Tetapi, saat ini sepertinya mereka telah membuat keputusan tentang kemampuan drone tersebut. Siapa pemenang dari perdebatan antara pesawat tempur dan pesawat mata-mata? Pemenangnya adalah pesawat untuk pengisian bahan bakar di udara atau Carrier-Based Aerial-Refueling System (CBARS). Artinya dua perdebatan sengit itu kalah semua.
Defense News menulis pada Senin 1 Februari 2016, masih sangat sedikit rincian tentang CBARS ini. Tapi tampaknya sebagian besar upaya UCLASS sekarang akan diarahkan untuk menghasilkan kapal tanker berbasis kapal induk.
Menteri Pertahanan Ash Carter kemungkinan akan segera mengungkapkan keputusan ini ketika berbicara tentang Fiskal 2017 yang akan digelar Selasa 2 Februari 2016. Rancangan anggaran sendiri akan disampaikan ke Kongres pada 9 Februari
Beberapa sumber dihubungi Defense News menegaskan peran utama CBARS adalah pengisian bahan bakar dengan sedikit kemampuan intelijen, pengawasan dan mata-mata atau intelligence, surveillance and reconnaissance (ISR).
Kemampuan serangan, menurut sejumlah sumber akan ditunda dan akan dipenuhi pada pembangunan drone masa depan.
Jika hal ini benar maka akan bertentangan dengan keinginan Kongres selama ini yang sangat menginginkan UCLASS memiliki kemampuan tempur. Kongres dan Senat memiliki sudut pandang yang berbeda dalam masalah ini yang akhirnya diambil keputusan kompromi pada 2016 otorisasi pertahanan menyediakan US$350 juta untuk program ini, justru jauh lebih tinggi dibanding permintaan Pentagon sebesar US$ 135 juta.
Tapi Kongres mengarahkan Angkatan Laut untuk mengembangkan pesawat dengan kemampuan penetrasi, mengisi bahan bakar di udara pada pesawat tanpa awak tersebut. Drone harus mampu melakukan berbagai misi di lingkungan non-permisif. Pesawat, menurut Kongres “harus dirancang untuk integrasi penuh dengan sayap tempur kapal induk dan memiliki rentang panjang, playload tinggi dan kemampuan pertahanan diri. Kongres tidak menyebut pesawat memiliki kemampuan sebagai tanker.

