Langit di atas Suriah semakin hiruk pikuk dengan raungan jet-jet tempur dan bomber. Inggris telah memutuskan untuk bergabung. Demikian juga Jerman. Tetapi masalahnya adalah sikap dari negara-negara yang melakukan misi di atas Suriah sangat berbeda meski mengklaim memiliki tujuan yang sama, yakni menghancurkan ISIS.
Serangan teroris di Paris dan Sinai telah meningkatkan arus misi serangan ke Suriah. Rusia menggelar serangan besar-besaran dengan mengirimkan puluhan bomber dari rumah mereka. Sebelumnya mereka hanya menggunakan kekuatan yang ditempatkan di Latakia Suriah. Demikian juga dengan Prancis yang langsung meningkatkan intensitas serangan dan mengirimkan kapal induk mereka untuk mendukung misi. Inggris sudah melesatkan rudal dari Tornado dan Typhoon, sementara Tornado Jerman juga sudah merapat ke Turki untuk bergabung meski sebatas misi pengintaian dan pengawasan serta tanker udara. Dengan begitu banyak negara yang menyerang ISIS di Suriah apakah koalisi anti-terorisme benar-benar terbentuk? Jawabannya nyaris tidak.
Masalah utama adalah bahwa tujuan dan tugas dari mereka yang membentuk koalisi ini tidak sama. Ini adalah situasi yang paradoks. Amerika Serikat, Prancis, Rusia dan Inggris mengidentifikasi musuh utama dalam hal yang sama yakni ISIS. Untuk memenuhi tugas ini, bantuan aktif dari pemain regional yang ada di dalam wilayah Suriah diperlukan. Secara teori, para pemain lokal ini harus melakukan aksi militer utama.

