
Kondisi Gallagher yang benar-benar panik: “Angin telah menyiksa fisik dan emosional saya dengan luar biasa. Angin ditumbuk wajahku dan tubuh seperti terkena air bah tanpa henti. Suara menderu ada di telinga saya. Saya benar-benar bingung. Tekanan angin yang begitu kencang di mulut saya menjadikan saya tidak bisa bernapas. Waktu aku telah kehilangan harapan. Tiba-tiba saya teringat istri saya dan akhirnya berkeyakinan.Aku tidak ingin mati.”
Sementara Baden menuju ke USS Abraham Lincoln, dalam pikirannya dia tidak akan melakukan pendaratan sempuna (rekaman yang dapat dilihat dalam video di bawah): “Saya tidak berniat melewatkan kabel. Aku mendarat pendek di kawat pertama (pendaratan sempurna disebut OK 3 dan itu terjadi ketika pilot menggunakan kabel ketiga dari empat kabel serta menarik throttle ke idle). Jika pendaratan sempurna pecahan kanopi bisa langsung di depan dada BN dan akan menjadi pisau yang sangat tajam. Saya sangat khawatir perlambatan perangkap itu akan melemparkan dia ke tepi kanopi yang bergerigi.” Kemudian setelah Baden dan sangat sadar bahwa Gallagher masih hidup ketika ia berkata:”Apakah saya di dek penerbangan ?”

Ketika Baden dan Gallagher tahu apa yang sebenarnya terjadi mereka menyadari betapa beruntungnya mereka. Ternyata Gallagher telah terlontar hingga ke bagian ekor pesawat. Untungnya tidak terkembang. Satu-satunya hal yang menahan dia tetap di pesawat adalah tali parasut.
“Cedera paling serius yang saya alami adalah 1/2 lengan kanan saya (bahu, bisep, dan lengan bawah) lumpuh karena saraf. Selain itu, bahu kiri saya rusak juga. Banyak bagian terkilir. Via terapi fisik, saya sembuh dalam waktu 6 bulan. Bahu kanan saya kembali dalam sekitar 1 bulan, lengan saya di sekitar 2-3 bulan, dan bicsp saya kembali dalam waktu sekitar 4-5 bulan. Aku harus melakukan semua kualifikasi saya fisiologis untuk membuktikan bahwa saya OK dan aku terbang lagi 6 bulan setelah kecelakaan itu.” (selesai)
Sumber: theaviationist
Kisah lebih lengkap bisa dibaca di: www.gallagher.com.

