Perjudian Berbahaya Amerika di Suriah
A member of the Free Syrian Army (FSA) looks at the valley in the village of Ain al-Baida, in the Idlib province of Syria, not far from the Turkish border, on December 15, 2011. A rebel group of Syrian defectors reportedly took position against the Syrian Army along the Turkish border. Army defectors killed at least eight Syrian troops on December 14 in an act of revenge after security forces shot dead five civilians, activists said, in the second such insurgent attack in as many days. "At least eight soldiers were killed in an ambush on four military jeeps travelling in the village of Al-Asharna on the outskirts of (the central city of) Hama," said the Britain-based Syrian Observatory for Human Rights. The violence comes amid diplomatic wrangling, as Western nations seek tough action against Syria at the UN Security Council, where the regime of President Bashar al-Assad has support from his veto-wielding ally Russia. AFP PHOTO / ENN - SEZAYI ERKEN = RESTRICTED TO EDITORIAL USE - NO MARKETING NO ADVERTISING CAMPAIGNS (Photo credit should read SEZAYI ERKEN/AFP/Getty Images)

Perjudian Berbahaya Amerika di Suriah

Pejuang dari Free Syrian Army
Pejuang dari Free Syrian Army

Setiap bom dijatuhkan Rusia di Suriah, maka hal itu juga menggambarkan reruntuhan dari kegagalan kebijakan Amerika di negara tersebut. Pemberontak yang dilatih Pentagon telah ditangkap oleh Al-Qaeda berikut dengan senjata yang diberikan. Satu tahun lebih setelah Presiden Ameika Barrack Obama berjanji menghancurkan ISIS, faktanya kelompok garis keras itu terus bercokol dan berkembang di Suriah dan juga Irak.

Amerika Serikat telah mendukung dua program pelatihan di Suriah. Keduanya telah gagal total. Sebuah inisiatif Pentagon dikenal sebagai “train and equip” telah melihat lulusan pelatihan ditangkap oleh afiliasi Al Qaeda Jabhat al-Nusra. Sebuah operasi rahasia, dikelola oleh Central Intelligence Agency (CIA), yang dikenal sebagai Military Operations Command (MOC), menyediakan senjata dan pelatihan untuk memilih brigade dari yang  berada di bawah payung Tentara Pembebasan Suriah atau Free Syrian Army (FSA). Tetapi hal ini juga tidak bernasib lebih baik.

Dilema terbesar Washington adalah bahwa unit FSA terlalu kecil untuk bisa melawan ISIS. Personel mereka tidak lebih dari 2.000 orang dan sebagian besar tidak bertempur melawan ISIS. Di Suriah utara, bahkan hampir tidak lebih dari 500 anggota brigade yang mendedikasikan diri untuk menentang ISIS. Lebih buruk lagi, mereka semakin sering diperas oleh kelompok-kelompok ekstremis seperti Jabhat al-Nusra dan Ahrar al-Sham.

Salah satu alasan di balik peningkatan daya kelompok-kelompok radikal ‘adalah dorongan dukungan asing. Ketika Raja Salman dari Arab Saudi naik tahta pada bulan Januari, ia mencoba untuk memulihkan hubungan dengan Qatar dan Turki. Mereka memutuskan untuk meningkatkan bantuan kepada faksi-faksi Islam yang lebih ekstrem di Suriah utara, yang bergabung untuk membentuk Army of Conquest oada Maret. Koalisi ini dengan cepat mampu memukul pasukan rezim dari sebagian besar provinsi Idlib.

Raja Salman memandang ekspansi Iran dari Gaza ke Yaman sebagai ancaman terbesar yang dihadapi kerajaan. Tidak seperti Washington, prioritas Arab Saudi dan sekutunya adalah menggulingkan rezim, tidak mengalahkan ISIS. Berbeda dengan Amerika yang kerap rewel, mereka tidak membedakan antara pemberontak moderat dan radikal. Mereka membuka dompet mereka untuk setiap kelompok di luar ISIS yang bersedia untuk melawan rezim.

Next: Rusia Mengubah Peta