
Angkatan Darat Amerika membuat langkah baru dalam menggabungkan helicopter Apache dengan pesawat tak berawak atau drone. Jika sebelumnya antara kedua platform ini berbagi informasi harus melewati kontrol darat, kini Apache bisa langsung mengendalikan pesawat mata-mata tersebut dari kabinnya.
“Dari sudut pandang operasional, ini memberikan Apache sepasang mata yang lebih tinggi di langit dan anggota kru ketiga dari operator Station Ground Control,” kata Sean Gilpin, UAS Level IV interoperability lead, Apache Project Office, PEO Aviation Kamis 9 Oktober 2014.
“Pesawat mata-mata ini jelas akan sangat membantu Apache dalam melakukan pantauan wilayah tempur dan memungkinkan pilot Apache untuk melihat di cakrawala.”
Angkatan Darat mengatakan hasil baru ini dicapai melalui penelitian dan ujicoba selama 2,5 tahun. Pengujian teknologi di Redstone Arsenal di Alabama dan El Mirage Flight Test Facility di California.Contributing dengan melibatkan Apache E yang merupakan varian terbaru dan Gray Eagle dari General Atomics Aeronautical Systems, sertaRQ-7 shadow, sebuah UAV kecil dari AAI Corporation.
“Selama pengujian kami, kami telah bisa mencapai kemampuan Apache E tidak hanya bisa mendapatkan informasi dari UAV tetapi juga bisa memerintah dan mengontrolnya,” kata Doug Wolfe, interoperability lead, Common Systems Integration, Unmanned Aircraft Systems Project Office, Program Executive Office for Aviation.
Gray Eagle adalah UAS terbesar dalam armada Angkatan Darat yang dapat terbang setinggi 29.000 kaki dan digunakan untuk berbagai misi intelijen, pengawasan dan pengintaian; perlindungan konvoi; Deteksi IED; dukungan udara; akuisi target; dan komunikasi serta mampu membawa rudal Hellfire.
Sementara Shadow adalah UAS kecil yang digunakan oleh komandan brigade untuk pengintaian, pengawasan, penargetan dan misi penilaian. Dapat terbang sejauh 77,5 mil dari kontrol tanah stations. Dapat mendeteksi dan mengenali kendaraan taktis saat terbang pada ketinggian hingga 8.000 kaki dan dari jarak dua mil.
Sumber: Asian Defense News

