
Jerman sepertinya akan mengambil langkah berbeda dalam pengembangan pesawat tanpa awak (UAV) mereka. Negara tersebut memilih untuk menyewa daripada membeli.
Menteri Pertahanan Jerman Ursula von der Leyen mengatakan hal itu dalam sebuah wawancara dengan surat kabar harian Jerman awal Juli 2014 ini.
Salah satu keuntungan dari opsi sewa menurut Von der Leyen adalah bahwa “Tidak memerlukan berbagai lisensi. Selain itu, memungkinkan kita untuk fleksibel bereaksi terhadap misi masa depan. Karena baru [UAV] model dapat dipersenjatai, sementara kita hanya versi pengintai yang sangat dibutuhkan di tangan. ”
Kementerian Pertahanan Jerman (MoD) mengisyaratkan untuk UAV yang akan memiliki kemampuan temput atau drone sangat disesuaikan dengan kepentingan militer sehingga menyewa sepertinya tidak pas.
Selain itu Von der Leyen menunjukkan bahwa keputusan tentang kapan drone diproduksi akan diputuskan parlemen.
Von der Leyen menyebutkan Heron UAV buata Israel sebagai contoh kerja sukses. Heron telah dikerahkan dengan pasukan Jerman di Afghanistan dalam peran pengintaian. Von der Leyen membandingkan dengan proyek EuroHawk RQ-4E, yang mengalami kenaikan biaya dramatis 500-600 juta Euro pada tahun 2013 karena kebutuhan untuk kualifikasi wilayah udara sipil Eropa, menurut Jerman MoD.
Namun, Von der Leyen menganggap opsi sewa hanya sebagai solusi sementara, sampai proyek dalam negeri dapat memenuhi persyaratan: “Dalam jangka panjang, pengembangan tempur UAV diperlukan,” katanya.
Sumber:
Comments are closed