For full functionality of this site it is necessary to enable JavaScript. Here are the instructions how to enable JavaScript in your web browser.

Lahar Dingin, Kesalahan Abadi Media

Hampir semua media menyebut banjir yang membawa material letusan gunung, seperti yang terjadi di Kelud dengan istilah Banjir Lahar Dingin. Sesuatu yang salah tetapi oleh media selalu diterus-teruskan.

Sesungguhnya tidak ada istilah lahar dingin dalam kegunungapian. Yang ada hanya dua yakni Lahar Letusan dan Lahar Hujan. Lahar letusan itu ya material  yang dilontarkan oleh gunung saat meletus. Sementara lahar hujan adalah lahar letusan yang terbawa air hujan menjadi aliran atau banjir.

Saya ingat ketika suatu hari berbincang-bincang dengan Mbah Rono. Waktu itu dianya masih menjabat sebagai Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Banyak hal yang diperbincangkan dari karakter berbagai gunung, apa saja sih gas yang berbahaya di gunung, awan panas dan sebagainya. Sampai suatu saat saya menyebut ”Lahar Dingin”. Mbah Rono tertawa yang membuat saya heran. Dan mengatakan ”Salah besar sebutan lahar dingin itu. Tidak ada istilah tersebut” barulah kemudian dia menjelaskan soal lahar letusan dan hujan tadi. Sampai-sampai kami diancam ”Kalau nyebut lahar dingin lagi di berita anda tidak usah kenal saya,” dan saya tertawa malu.

Sosok yang tampak angker ini akhirnya juga jujur kerap jengkel dengan pertanyaan wartawan yang kadang gak paham persoalan. Seharusnya wartawan yang mau meliput sesuatu termasuk gunung belajar dulu. Jangan langsung ke lapangan tanpa pemahaman. Akhirnya pertanyaannya jadi lucu dan wagu. ”Masa saya ditanya kapan gunung akan meletus. Ya siapa yang tahu coba? Orangnya cantik-cantik, ganteng-ganteng pertanyaannya gak nyambung. Gaya sih metropolis pertanyaan agraris,” katanya lagi. Dan lagi-lagi saya  malu…

Facebook Comments