For full functionality of this site it is necessary to enable JavaScript. Here are the instructions how to enable JavaScript in your web browser.

Perasaan yang Terlambat Muncul

Kerap kali kita terbebani dengan masa lalu. Di lain kali, kita begitu sering takut dengan hari esok dan masa depan. Hingga akhirnya sering kali kita lupa untuk menikmati dan mensyukuri apa yang terjadi di hari ini.

Kita sering cemas bagaimana nasib anak-anak kita nanti. Lupa bahwa saat ini mereka sedang begitu ceria menikmati hidupnya. Atau tidak mampu melihat anak-anak itu tengah tertidur pulas dengan tubuh yang sehat.

Kita kerap takut apakah besok kita bisa membeli sesuatu yang jadi keinginan kita. Tidak ingat, betapa hari ini semua sudah bisa berjalan dengan baik meski yang kita inginkan itu belum juga ada.

Sering kita panik ketika kesalahan yang kita lakukan di hari kemarin akan membawa dampak buruk di masa depan. Lupa bahwa hari ini kita bisa melakukan perbaikan. Atau lupa bahwa betapa sering kita melakukan kesalahan, dan akhirnya bisa diselesaikan entah bagaimana caranya.

Kita kerap sibuk merancang apa yang akan kita lakukan di esok hari. Sampai-sampai kita lupa bahwa hari ini seharusnya bisa menikmati dan mensyukuri kelelahan dengan berbaring di kasur empuk.

Kita terus mencari cara bagaimana besok mencari rizki. Lupa bahwa hari ini seharusnya kita merasa begitu cukup  makan, bertemu keluarga serta tidur dengan tenang.

Kita cenderung melakukan hari ini untuk hari esok sehingga tidak pernah menikmati hasil dari apa yang kita lakukan hari ini. Hari ini untuk esok, esuk untuk lusa, lusa untuk hari berikutnya, bulan berikutnya, masa berikutnya. Tidak selesai-selesai. Tidak ada akhirnya. Terus berburu. Terus mengejar. Tanpa merasa puas karena memang tidak pernah merasakan nikmat dan mensyukuri apa yang bisa dinikmati dari perburuan itu di hari ini.

Kerapkali kita terbebani dengan masa lalu dan ketakutan dengan apa yang akan terjadi di masa depan hingga akhirnya  kita lupa untuk menikmati dan mensyukuri apa yang terjadi di hari ini.

Padaha masa lalu adalah masa lalu. Dan masa depan sudah diatur oleh  Sang Maha Sutradara dengan jalan cerita yang sudah selesai ditulis,”Cukuplah Allah bagiku…” Bismillah…

Sesungguhnya ini perasaan yang terlambat muncul!

Facebook Comments