For full functionality of this site it is necessary to enable JavaScript. Here are the instructions how to enable JavaScript in your web browser.

Joko Semelung, Legenda Gua Pindul

pindul

Gua Pindul merupakan salah satu tempat wisata terkenal di Gunungkidul. Sebuah gua yang cukup panjang dengan berbagai keindahan di dalamnya. Tetapi tempat ini pun tidak lepas dari cerita rakyat dan mitos. Apa itu?

Cerita bermula dari tiga perempuan yang sedang mencari makan di hutan. Kehidupan masa lalu adalah berburu dan meramu, mengambil apa yang disediakan oleh alam. Satu dari tiga perempuan tersebut adalah Sekar Tanjung, salah satu lakon dalam dongeng ini.
Di hutan mereka menemukan buah mangga. Sayang, mereka tidak punya pisau untuk mengupasnya. Hingga ada seorang pengembara yang mempunyai belati lewat jalur mereka.

Waktu itu, seseorang yang memiliki belati bukanlah sembarang orang. Pemilik belati adalah orang sakti dan satria. Ketiga perempuan memberanikan diri meminjam belati untuk mengupas mangga. Lelaki pengembara mengizinkan belatinya dipinjam dengan syarat jangan sampai menyentuh selangkangan. Tanpa disengaja, belati tersebut mengenai selangkangan Sekar Tanjung, tiba-tiba belati tersebut menghilang entah kemana. Ketiganya bertangisan telah menghilangkan belati milik laki-laki pengembara. Ketiga perempuan menghadap lelaki pengembara, mengaku telah menghilangkan belati dengan ketakutan.
Ternyata laki-laki pengembara merelakan belatinya, namun ia tak ikut bertanggung jawab jika sewaktu-waktu terjadi sesuatu pada ketiga perempuan tersebut. Namun ia bersedia ditemui jika dibutuhkan, seraya lelaki pengembara tersebut menunjuk ke arah utara, ke arah gunung Merapi.

Tak lama kemudian Sekar Tanjung tiba-tiba hamil tanpa suami, karenanya ia merasa malu dan diasingkan oleh kedua teman perempuannya. Sekar Tanjung akhirnya menetap di sebuah tempat, hingga ia melahirkan. Kaget bukan kepalang, ternyata Sekar Tanjung tidak melahirkan bayi manusia, tapi bayi yang berwujud ular. Sekar Tanjung tetap menganggapnya sebagai anak, bayi tersebut dinamai Joko Semelung. Banyak bangsa lelembut (siluman) yang tak suka anak Sekar Tanjung berwujud ular. Akhirnya Joko Semelung dimasukkan lalu ditimbun ke dalam kentheng (bak air dari batu yang ditatah) oleh para siluman. Sekarang kentheng menjadi nama daerah. Si ibu menangis, begitu pula dengan Joko Semelung. Sifat tanah jika ditetesi air semakin lunak, membuat Joko Semelung bersemangat menggali tanah agar ia bisa keluar dari kurungan kentheng bertemu ibunda. Ajaib, air mata si Joko Semelung berubah menjadi mata air dan membantunya keluar dari kurungan. Tempat Joko Semelung pertama kali keluar tersebut dinamakan Sendang Medal.

Lama setelah Joko Semelung dewasa, ia berpikir tentang ayah; siapa ayahnya dan di mana? ibunda tak bisa menjawab, ia hanya menunjukkan arah di mana lelaki pengembara bisa ditemui. Akhirnya si Joko Semelung memulai perjalanannya mencari ayah. Ia masuk ke tanah dan membuat jalan rongga di bawah permukaan. Tempat-tempat di mana Joko Semelung berjalan membentuk aliran air dan tempat di mana Joko semelung muncul menjadi mata air. Tempat kemunculan Joko Semelung yang menjadi mata air tersebut distilahkan oleh warga setempat sebagai Sendang Pitu. Masing-masing sendang memiliki namanya sendiri sesuai kejadian yang dialami Joko Semelung.

Tentu saja perjalanan Joko Semelung mencari ayah tidak mudah. Banyak gangguan selama perjalanan. Salah satunya adalah ketika Joko Sumelung bertemu dengan ular betina yang jatuh cinta dengannya. Si ular betina tetap memaksakan cintanya ke Joko Semelung, karena ia tidak menghendaki cinta ular betina terjadilah pertengkaran hebat. Ternyata pertempuran hebat tersebut menghasilkan telur, ular betina dikutuk menjadi batu berbentuk plengkung. Monumen tersebut bisa kita saksikan hingga kini di dekat sumber Semurub. Merasa judeg (bingung) dengan kejadian-kejadian selama perjalanan pencariannya, Joko Semelung disarankan oleh ibundanya untuk rehat sejenak sambil berdoa pada Sang Kuasa. Tempat ini dinamakan Kedung Buntung.
Setelah Joko Semelung kembali bersemangat dan menyadari bahwa ada lelaku yang harus ia tempuh jika ingin bertemu dengan ayahnya. Ia kembali ambles ke tanah, lalu ia terantuk tebing batu,”Pindul: pipine kebendul”, membentuk rongga dinding batu yang kini menjadi tempat wisata. Merasakan kesakitan pipinya terantuk batu, Joko Semelung meneteskan air mata, peristiwa tersebut kini diabadikan dalam nama pintu keluar Gua Pindul, Banyumoto.

 

Sumber: Ensiklopedi Gunungkidul

Ingin tahu betapa hebatnya Indonesia? Negara ini seharusnya menjadi negara ditakuti. Tetapi kenapa sekarang sepertinya tidak berdaya? baca di

http://earningloot.biz/?reflink=amiruddin

 

Facebook Comments