F-35 Terintegrasi dengan Aegis, AS Temukan Solusi Lawan S-400

USAF

Angkatan Laut dan Korps Marinir Amerika Serikat telah berhasil menguji jet tempur Lockheed Martin F-35B Joint Strike Fighter dengan jaringan pertempuran Naval Integrated Fire Control-Contra Air (NIFC-CA).

Mengintegrasikan jet siluman ke dalam jaringan NIFC-CA berarti akan memungkinkan pesawat untuk menyediakan penargetan over-the-horizon untuk kapal penjelajah Aegis dan kapal perusak untuk melawan ancaman masuk.

Selain itu, F-35 akan dapat memberikan data penargetan ke seluruh armada dari dalam zona pertahanan sistem pertahanan udara Rusia atau China seperti S-400 atau HQ-9.

“Tes ini adalah kesempatan besar untuk menilai kemampuan Angkatan Laut guna mengambil teknologi terkait dan berhasil menutup loop pengendalian tembakan serta menggabungkan senjata anti permukaan dan anti udara,” kata Anant Patel, seorang Manajer Program untuk sistem tempur masa depan di Program Executive Office for Integrated Warfare Systems (PEO IWS) Angkatan Laut AS dalam sebuah pernyataan sebagaimana dikutip Dave Majumdar dari National Interest Selasa 13 September 2016.

Selama uji penembakan pada 12 September di White Sands Missile Range in New Mexico, sebuah F-35B Marinir AS bertindak sebagai sensor off-board untuk mendeteksi ancaman over-the-horizon untuk USS Desert Ship (LLS-1).

Selama uji terbang, F-35B menunjukkan bahwa mereka bisa menyampaikan data melalui Multi-Function Advanced Data Lin ke stasiun tanah yang terkait dengan Desert Ship.

Kemampuan F-35 untuk masuk ke NIFC-CA guna menyampaikan data ke sistem Aegis akan menjadi kunci untuk strategi Angkatan Laut mengalahkan apa yang disebut anti-access / area denial di Pasifik Barat, Baltik atau Mediterania Timur.

Kombinasi dari F-35, Aegis dan NIFC-CA akan memungkinkan Angkatan Laut untuk menargetkan kombatan permukaan musuh paling mampu dan  yang memiliki pertahanan udara yang tangguh seperti kapal Project 1144 Kelas Orlan Rusia atau yang lebih dikenal sebagai Kelas Kirov.

“NIFC-CA adalah game changer untuk Angkatan Laut AS memperluas jangkauan dalam mendeteksi, menganalisis dan mencegat target,” kata Dale Bennett, Wakil Presiden Eksekutif, Martin Rotary dan Misi Systems Lockheed dalam sebuah pernyataan.

“Demonstrasi F-35 dan Sistem Senjata Aegis membawa kita selangkah lagi lebih dekat untuk mewujudkan potensi sejati dan kekuatan jaringan di seluruh dunia dari sistem yang kompleks.”

Kapal AS aktifkan sistam rudal Aegis / US Navy

Mungkin lebih mudah digambarkan kombinasi F-35 / NIFC-CA akan memungkinkan Joint Strike Fighter dengan kekuatan silumannya akan diam-diam menyusup ke zona berbahaya musuh yang dilindungi oleh sistem seperti S-400. Selanjutnya F-35 akan mencari target yang harus dihancurkan, data yang didapat kemudian dikirim ke seluruh kelompok tempur kapal induk.

Meski F-35C yang berbasis di kapal induk tidak mampu membawa muatan besar, peran utamanya dalam kelompok tempur adalah memberikan data penargetan kritis yang diperlukan untuk serangan oleh kapal.

F-35 bisa digunakan untuk data penargetan bagi  sebuah F/A-18E/ F Super Hornet, EA-18G Growler, penjelajah Aegis atau bahkan kapal selam untuk bisa meluncurkan rudal jarak jauh guna menghantam target.

Lebih simpelnya lagi, F-35 akan masuk diam-diam ke wilayah musuh, memberi data target ke kapal atau pesawat lain, dan merek yang akan membereskan target tersebut.

Baca juga:

Setelah Sarmat, Inilah Respons Rusia Selanjutnya untuk Sistem Rudal Aegis AS

Facebook Comments