For full functionality of this site it is necessary to enable JavaScript. Here are the instructions how to enable JavaScript in your web browser.

Titik balik….

Aku lupa tanggal bulan dan tahun persisnya. Yang jelas usiaku masih sekitar enam tahun. Malam itu aku disuruh tidur di tempat Budi sahabat ku. Budi sebenarnya masih saudara dekat. Simbahku adalah mbah buyut Budi. Artinya, ibu Budi adalah saudara sepupuku.

Aku tahu kenapa disuruh tidur di tempatnya. Karena besoknya Ibuku akan berangkat ke luar negeri. Ibu terpilih sebagai wakil wanita tani DIY yang diajak kunjungan ke sejumlah negara yakni Philpina dan Malaysia. Sebuah pengalaman yang luar biasa bagi seoran wanita dusun seperti ibu.

Malam itu, ketika aku belum lagi berangkat tidur, Mas Narman, omnya Budi dan Mas Abas datang dan mengajak aku pulang. Tadinya aku tidak mau. Baru setelah Mas Narman bilang aku mau dikasih jambu monyet rebus aku akhirnya ikut. Jambu monyet rebus memang salah satu kesukaanku waktu kecil.

Saat aku sampai, rumahku sudah penuh orang. Aku belum mengerti apa yang terjadi. Baru setelah sampai di kamar bapak, aku mulai sedkit sadar. Bapakku berslimut sambil menggigil kedinginan namun keringat mengucur dengan deras. Ibuku duduk di samping bapak sambil menangis. Yang aku tidak ingat di mana kakak-kakakku yang lain. Bapakku sakit. Aku tahu itu.

Suasana begitu hiruk pikuk. Sementara aku hanya terbengong-bengong tidak tahu apa yang harus dilakukan. Aku hanya duduk di pangkuan ibuku.

Tidak lama kemudian datang seorang tabib dengan pakaian serba putih. Wajah dan kulitnya juga putih seperti turunan arab. Aku sejenak disuruh agak menyingkir namun masih tetap di dalam kamar. Aku melihat tabib itu mengurut bapak.Yang aku heran saat mengobati bapak, tabib itu muntah-muntah. Aku saat itu berfikir orang itu menyedot penyakit bapak kemudian memuntahkannya.

Usai prosesi itu bapak masih sempat berdiri dan berjalan keluar rumah untuk buang air. Ibuku tampak sedikit lega. Namun kemudian hari bapak mengaku dia berusaha skuat tenaga untuk bangkit agar Ibuku tidak membatalkan rencana kepergiannya ke luar negeri.

Selanjutnta aku tidak tahu apa yang terjadi. Aku tertidur. Pagi ketika bangun ibuku sudah tidak ada. Berarti sudah berangkat. Sementara bapak aku lihat tetap tergolek di tempat tidur.

Suasana rumah masih cukup ramai. Beberapa orang masih tampak sibuk entah melakukan apa. Yang aku ingat aku melihat kang Pranoto. tetangga depan rumahku sedang menggali tanah di depan pintu rumah sambil ditunggui tabib semalam.

Di setiap pintu depannya digali. Kemudian tabib itu memasukkan botol berisi air dan kembang ke dalam tanah sebelum kemudian ditimbun lagi. Baru aku tahu, orang ini dukun.

Yang sampai sekarang tidak habis aku pikir kenapa yang datang justru tabib? bukan dokter? padahal yang mencari tabib itu sodara bapakku yang notabene orang-orang pintar dan dari kalangan Muhammadiyah yang seharusnya tidak percaya hal-hal semacam itu. Aku benar-benar tidak paham. Sampai sekarang siapa tabib itu dan darimana asal usulnya aku tidak tahu. Ketika bapak dan ibu meninggal kemudian mbaku berniat membangun rumah di bekas rumah kami, saat menggali pondasi beberapa botol masih ditemukan.

Aku lupa berapa lama ibu pergi. Seingatku cukup lama. Mungkin sekitar satu bulan. Kalau aku berpikir saat ini tak bisa kubayangkan bagaimana gelisahnya ibu saat pergi iru karena meninggalkan bapak dalam kndisi sakit. Padahal tidak ada satupun alat komunikasi yang bisa digunakan ibu buat memantau kondisi rumah. Tak bisa kubayangkan bagaimana jika saat itu bapak meninggal dunia. Namun hal itu tidak terjadi. Ibu pulang dan kondisi bapak belum sepenuhnya baik.

Tidak ada oleh-oleh istimewa ibu kecuali beberapa potong baju model Philipina yang tidak begitu aku suka modelnya.

Awal bapak sakit itu menjadi sebuah titik balik kehidupan keluargaku. Dengan pelan namun pasti ekonomi keluarga mulai merosot.

Bapak keluar masuk rumah sakit. Pertama bapak mondok di puskesmas Sanggrahan ponjong. Namun tidak lama setelah keluar bapak masuk lagi kr RSUD Wonosari. Beberapa kali keluar masuk kondisi tidak membaik akhirnya dibawa ke RS PKU Muhammadiyah Yogayakarta. Di tempat inilah baru diketahui Bapak menderita diabetes militus yang sudah cukup parah. Kelenjar insulin tidak lagi bisa diproduksi secara mandiri oleh tubuh bapak sehingga harus dipasok dari luar.

Sejak saat itulah setiap mau makan bapak harus menyuntik dirinya sendiri. Tak terhitung berapa ribu kali jarum suntik menusuk paha bapakku sebelum kemudian bapak mennggal setelah 12 tahun mengidap penyaakit itu. Ratusan botol dan jarum suntik bekas masih dikumpulkan sampai meninggal.

Aku tidak ingat berapa harga satu botol insulin. Kalau tidak salah dari sekitar Rp5.000 pada awal bapak sakit sampai Rp80.000 saat terakhir dibeli sebelum meninggal. Sebuah harga yang mahal kala itu.

Satu botol obat biasanya untuk lima hari. Jika teratur kondisi bapak cukup baik. Bapak bisa bekerja seperti biasa. Namun jika kondisi uang mepet biasanya dosisnya dikurangi hingga satu botol digunakan untuk 7 bahkan 10 hari. Saat itulah kondisi bapak memburuk dan hanya ada di rumah saja. Apalagi jika obat benar-benar habis. Kondisinya lebih buruk lagi.

Ketika obat benar-benar habis aku pernah beberapa kali berinisiatif mengumpulkan sisa-sia obat dari botol bekas. Sisa-sisa sedikit aku sedot dengan suntik kemudian aku tampung di botol lain. Lumayan bisa mendapatkan paling tidak untuk setengah dosis. Itu aku lakukan ketika aku masih SD.

Suntik bekas yang dikumpulkan sering aku gunakan untuk bermain. Aku tangkap kupu-kupu atau serangga lain lalu aku suntik dengan alkohol. Kata kakakku bisa untuk mengawetkan hewan.Tapi seingatku hal itu tidak pernah berhasil.

Pernah aku dimarahin habis-habisan karena memberikan suntik bekas itu kepada teman sekolahku. Oleh temannku suntik itu digunakan menusuk teman yang lain hingga menangis. Sesampai di rumah aku dimarahin ibuku yang juga guru SDku.

Setelah sakit Bapak dibatasi makannya. Bahkan awal-awal sakit bapak tidak makan nasi tetapi kentang. Semula aku ikut menikmati makanan itu. Meski ibu selalu bilang kalau makan kentang ambil yang pecah-pecah saja. Tapi lama-lama aku sendiri yang bosan. Mungkin gara-gara itu sampai saat ini aku tidak begitu suka dengan makanan yang terbuat dari kentang.

Namun bapak sendiri tidak tertib dalam hal makan. Aturan diet sering ditabrak. Ibu sering marah-marah kalau tahu bapak diam-diam bikin teh manis atau makan makanan manis. Hal itu yang mungkin menjadikan kondisi bapak juga tidak bisa dijaga baik.

Akhirnya ibu juga nyerah. Bahkan tidak lama sebelum bapak meninggal ibu memenuhi apapun keinginan bapak. Mungkin ibu kasihan dan sudah punya feeling bapak tidak akan lama lagi hidup sehingga semua keinginannya dituruti.

Diabetes telah merubah bapakku yang semula seorang pekerja keras menjadi sosok yang begitu lemah. Tak pernah lagi turun ke sawah, menggiring bebek dan lain sebagainya. Kegiatan dakwah yang semula sangat rajin dilakukan juga secara perlahan ditinggalkan. Bapak jarang pergi malam ke berbagai daerah untuk mengisi pengajian. Paling banter hanya ketika idulfitri bapak ditunjuk sebagai imam dan khatib di wilayah lain.

Selain karena keluar masuk rumah sakit, harus rutin beli obat, anak-anakknya yang sudah mulai besar semakin membutuhkan biaya sekolah. Itu semakin menjadikan tekanan ekonomi keluargaku semakim berat.

Saat aku masih duduk di bangku kelas III SD, Mas Abbas, kakakku yang nomor dua diterima  di Fakultas Kedokteran UGM, Mbak Wati, anak nomor tiga masuk SMA dan Mas Nur, anak nomor empat masuk SMP secara bersamaan. Pastilah kondisi berat yang harus ditanggung bapak dan ibuku. Yang aku tidak ingat apakah Mbak Yanti, anak pertama sudah selesai sekolah di SMAK Yogyakarta atau belum. Yang jelas telah lulus dari sekolah ini Mbak Yanti langsung diangkat jadi pengajar di sekolah itu.

Diterimanya Mas Abbas di FK UGM benar-benar menjadi kebanggaan bapak dan ibuku. Aku ingat dimana-mana bapak dan ibu menceritakan tentang anakknya itu.

Sejak semakin menurunnya ekonomi keluarga aku juga berdampak pada kehidupanku sebagai seorang bocah. Banyak keinginan yang akhirnya hanya menjadi keinginan.

Satu hal yang paling tidak bisa aku lupakan saat SD aku ingin sekali punya sepeda gunung. Bahkan keinginan itu sampai beberapa kali terbawa mimpi. Aku sudah sampaikan keinginan itu ke bapak dan ibu. Tapi dijawab tidak mungkin karena tidak punya uang.

Sungguh aku kecewa dengan kondisi itu. Tapi entah aku bisa menerimanya. Pikiran bocahku tidak mempengaruhi aku untuk ngambek apalagi ngamuk.

Keinginan itu masih saja aku ingat sampai saat ini. Bahkan ketika aku bisa membelikan dua anakku sepeda gunung, diam-diam aku menangis ingat bagaimana inginnya aku saat itu.

Soal sepeda aku juga harus rela tidak menjalani kebiasaan kakak-kakakku. Biasanya, ketika masuk SMP bapak selalu membelikan anakknya sepeda baru. Tapi aku tidak dan hanya disuruh memakai sepeda bekas Mas Nur. Aku baru bisa beli sepeda ketika aku disunat. Uang sumbangan aku kumpulkan dan aku berikan ke bapak untuk dibelikan sepeda. Saat itu aku minta sepeda balap. Permintaan itu dikabulkan.

Saat kecil aku juga pernah ingin sekali punya meja karambol. Namun lagi-lagi itu tidak dikabulkan. Baru ketika kuliah, saat bapak ibu meninggal aku berinisiatif bikin meja karambol. Aku suruh temanku untuk membikin. Maksudnya agar anak-anak muda mau tidur di rumahku yang sudah kosong tak berpenghuni.

Meski masih bocah aku saat itu sudah sadar betul tentang situasi yang ada. Aku juga tahu bapak ibu mulai terjerat utang di mana-mana. Dulu bapakku sering dapat tamu seorang laki-laki bercambang namun bersikap sopan. Beberapa lama kemudian aku tahu orang itu petugas bank yang datang untuk menagih utang.

Suatu hari bapak juga didatangi Pak Ngateman, salah satu tokoh dusunku. Dengan jelas Pak Ngateman tanya apakah bapak masih sanggup membayar utangnnya di kelompok bapak-bapak dusunku. Dengan tegas bapak menjawab masih. Aku sempat sedih karena kejadian itu. Lebih sedih lagi ketika aku disuruh beli sesuatu di toko tetangga dusun, pemilik toko bilang ke aku kalau ibu disuruh melunasi utangnnya, Malu sekali rasanya. Sampai sekarang aku juga heran kenapa pemilik toko itu bilang ke aku yang masih bocah.

Dari keluarga yang semula terpandang secara ekonomi, keluargaku berubah menjadi keluarga yang justru jauh teringgal dibandingkan tetangga-tetangga. Kami tidak lagi punya TV dan harus ganti lihat tv di tempat orang lain. Sepeda motor bapak juga dijual.Sebelum sakit, bapak berencana membangun rumah tembok. Rumah kayu bagian depan dibongkar dan pondasi telah dibangun. Namun rumah tidak pernah terwujud. Pondasi akhirnya dibongkar lagi dan didirikan rumah kayu kembali. Itupun dilakukankarena Mbak Yanti mau menikah sehingga harus ada tempat untuk resepsi.

Selama bertahun-tahunjarang sekali ada barang baru yang dibeli bapak ibu. Kondisi rumah juga memprihatinkan. Kalau hujan bocor disana sini. Apalagi kalau ada angin besar ibu selalu mengajak anak-anakknya keluar rumah untuk berjaga-jaga kalau rumah kami ambruk karena angin.

Aku mulai menyadari ibuku sosok yang sangat kuat. Wanita yang tidak banyak menuntut secara ekonomi

Hampir tidak pernah aku melihat jari ibu berhias cincin emas. Padahal bulikku yang suaminya hanya PNS golongan bawah saja cincin emasnya cukup banyak. “Kalau kalian tidak sekolah ibu juga bisa punya emas. Apa kamu mau tidak sekolah,” begitu kira-kira kalimat yang beberapa kali diucapkan ibu.

Memang, salah satu yang menjadikan ekonomi morat marit karena tekat bapak dan ibu menyekolahkan anak-anakknya. Dari lima anak, hanya anak yang pertama yang tidak kuliah karena angsung jadi PNS.setelah lulus SMA. Empat yang lain semua kuliah. Hal ini yang menjadikan keluargaku meski miskin masih cukup disegani. Hal yang aku syukuri seluruh anak bapak ibuku mempunyai kemampuan otak yang baik. Tak ada yang bodoh di keluargaku.

Sayangnya, perjuangan bapak ibuku secara ekonomi belum terbalas oleh anak-anakknya. Ini yang sempat membuat aku kecewa dengan kakak-kakakku. Mereka langsung menikah ketika selesai kuliah dan bekerja. Aku sempat punya janji dalam hati jika aku sudah bekerja tidak akan langsung menikah tetapi ingin sedikit membantu ibuku setidaknya mengurangi utang-utangnnya. Tapi sayang, janji itu tidak pernah bisa aku lupakan karena ibuku meninggal ketika aku belum selesai kuliah…

Facebook Comments