For full functionality of this site it is necessary to enable JavaScript. Here are the instructions how to enable JavaScript in your web browser.

Menuju Solo…

Satu datang satu pergi. Tuhan berkehendak seperti itu pada hidupku. Bapak diambil kemudian Asti didatangkan. Meski tak bisa saling mengganti 100 persen tentunya.

Meninggalnya bapak tidak banyak membawa perubahan sikap pada diriku. Sepenuhnya aku siap dan bisa menerima keputusan Tuhan tersebut. Bahkan kadang aku berpikir, itulah yang terbaik daripada berlama-lama menderita karena sakit.

Aku juga berpikir beban ibu akan lebih ringan. Tetapi untuk satu ini aku salah. Benar-benar salah total. Apa yang terjadi pada ibu setelah bapak meninggal memberikan aku satu pemahaman tentang kekuatan cinta.

Selama 12 tahun saat merawat bapak yang sakit, aku melihat ibu sebagai sosok yang sangat tabah dan kuat. Jarang sekali beliau sakit. Tetapi setelah bapak meninggal, yang dalam pikiranku bebannya akan berkurang, ibu justru terlihat lemah. Beliau sering sakit-sakitan. Dan dalam waktu yang aku pikir singkat, hanya sekitar lima tahun, Ibu kemudian menyusul bapak. Bagaimanapun pasangan hidup, bagaimanapun kondisinya begitu berarti bagi seseorang. Aku menjadi orang yang sangat percaya dengan kekuatan cinta.

Satu tahun terakhir di SMA aku lalui dengan ringan. Asti banyak memberi warna pada masa-masa itu. Meski kami berpacaran dengan cara sederhana. Tidak berlebihan, apalagi norak. Kami jarang konflik serius. Aku bisa diterima dengan baik di keluarganya. Pun Ibu pun bisa menerima dengan baik.

Namun masa sulit ternyata belum juga berakhir. Lulus SMA aku tidak diterima UMPTN. Artinya aku harus jadi pengangguran setidaknya satu tahun. Sementara Asti yang juga tidak diterima akhirnya kuliah di swasta.

Ibu sempat menyuruhku kuliah di swasta dengan menyatakan sanggup untuk membiayainya. (Waktu itu PTS jauh lebih mahal dibandingkan PTN-tidak seperti sekarang). Tetapi tawaran ibu itu aku tolak. Aku bilang akan menunggu satu tahun untuk mencoba lagi. Tidak masalah. Toh dua kakakku juga sempat gagap di kesempatan pertama dan kemudian berhasil di kesempatan kedua. Aku optimistis bisa seperti mereka.

Hanya saja menganggur satu tahun tanpa aktivitas memang membawa tekanan sendiri. Apalagi Asti kuliah. Bertemu teman-teman SMA menjadi beban berat bagiku saat itu. Tetapi aku berusaha untuk enjoy saja.

Aku tidak pergi ke mana-mana selama satu tahun itu. Lebih banyak di rumah. Aku juga masih banyak berhubungan dengan Gembuk dan Banarta, dua teman SMA-ku yang senasib tidak kuliah. Kami sering belajar bersama dan akhirnya ikut bimbingan tes bersama. Lagi-lagi Asti banyak membantuku waktu itu.

Dan akhirnya pada UMPTN kedua, aku bisa diterima di perguruan tinggi negeri. Meski hanya diterima di UNS, PTN yang harus diakui ada di kelas kedua setelah UGM dan yang lainnya. Tetapi aku tidak memperdulikan hal itu. Aku sudah bersyukur bisa diterima di kampus tersebut.

Aku diterima di jurusan komunikasi. Sementara Asti yang ikut kembali UMPTN juga diterima di IKIP Yogyakarta (saat ini UNY).

Kini kami menghadapi situasi baru. Menghadapi apa yang disebut jarak. Meski Jogja-Solo tidaklah jauh, tetapi juga tidak bisa sedekat sebelumnya. Akan banyak persoalan yang kemudian muncul.

Agustus 2005, aku masuk Solo. Inilah untuk pertama kali aku menyapa kota tersebut. Aku naik motor dengan Anto Kisworo, temanku SMA yang terlebih dahulu kuliah di kampus tersebut. Hari pertama ke Solo untuk cari kos, aku ada feeling gak enak. “Kota ini tidak bersahabat untukku,” begitu feelingku saat itu. Feelingku semakin kuat ketika pulang, gantian Anto yang bawa motor kena tilang polisi. Mana dia gak punya SIM lagi. Akhirnya kami harus iuran bayar polisi.

Aku sempat bilang sama Asti kayaknya aku gak akan nyaman di Solo. Tetapi seperti biasa Asti selalu memberi semangat untuk maju. Dan memang tidak ada alasan untuk mundur. Itu sudah jalan hidup yang harus aku lalui.

Pertengahan Agustus 2005, aku mulai kuliah di UNS. Upacara penyambutan sekaligus upacara 17 Agustus menjadi hal pertama yang aku lakukan. Ada beberapa teman dan adik kelas SMA yang juga diterima di jurusan tersebut. Hingga aku tidak begitu kesepian. Di fakultas dan jurusan lain juga banyak yang sudah aku kenal.

Aku cenderung hati-hati untuk mencari teman waktu itu. Pengalaman di SMA membuat aku tidak sembarangan untuk memilih teman. Aku tidak mau terjebak pada kelompok yang salah. Dan akhirnya aku mendapatkan teman yang tepat. Selama kuliah aku mempunyai teman-teman yang tepat. Anton, Kun Wahyu, Edi Geol, Yulia, Elia, Suci, Salim Sahab, Raditya Yunianti, Heru, Erwin, Purbasari, Arimurti, Arina dan masih banyak lagi.

Sampai sekarang mereka masih menjadi teman-teman yang hebat. Anton, menjadi redaktur pelaksana di Solopos dan hampir setiap saat berkomunikasi. Karena aku bekerja di Harian Jogja yang merupakan satu grup dengan Solopos. Dia dan keluarganya sudah seperti saudara. Aku kenal baik istrinya (yang juga adik tingkat), Asti pun kenal baik dengan Anton dan keluarganya. Anton, menjadi salah satu saudara yang bertemu di tengah jalan.

Yang lain juga masih berhubungan baik. Yulia menjadi pengusaha dan suaminya (yang juga aku kenal baik) menjadi anggota legislatif Kota Magelang, Kun jadi wartawan di Jakarta, Heru sukses dalam meniti karier di perusahaan asuransi. Edi yang kemudian menikah dengan Elia menjadi PNS di Jakarta. Akhir-akhir ini aku punya sedikit masalah hubungan dengan Edi dan Elia. Padahal sebelumnya mereka merupakan sahabat paling dekat.

Dalam hubungan dengan mereka aku memang menghadapi situasi sulit. Satu orang meminta aku masuk ke urusan keluarga. Satu pihak tidak suka hal itu aku lakukan. Akhirnya, aku memilih untuk tidak lagi ikut campur. Tapi hubungan sudah terlanjur tidak nyaman. Hanya saja aku yakin persoalan itu suatu saat bisa aku selesaikan. Tinggal menunggu waktu saja.

Yang lain, Salim sudah menjadi ‘petualang’ yang sukses di sana-sini. Dia bahkan sudah masuk lingkaran orang-orang hebat. Dia sejak kuliah memang dikenal sebagai pelobi yang bagus. Erwin jadi PNS di Kudus, Suci jadi PNS juga di Pati, Ari sudah menjadi ibu dua puteri di Jakarta, sementara Arina menjadi karyawan sebuah bank di Jogja.

Arina, sebenarnya hanya menjadi teman satu tahun karena setelah itu dia diterima di UGM. Tidak perlu menjadi orang cerdas untuk memilih UGM dan meninggalkan UNS. Tetapi dengan teman ini aku masih berhubungan. Ya, semua karena facebook yang memudahkan hubungan dengan siapapun.

Salah satu nama adalah Arina . Semua orang memanggilnya Utik/Uti/Uthee. Tetapi aku selalu memanggil dengan nama Arina. Sampai sekarang. Pernah dia protes kenapa aku tidak panggil Uti, aku gak bisa jawab karena memang sejak awal aku sudah panggil dia seperti itu.

Arina adalah perempuan pertama yang aku kenal di kampus. Hal ini karena dia merupakan satu kelompok dalam diskusi penataran P4. Tugasnya, kami harus membuat makalah bersama. Tempatnya di kos Arina.

Saat aku datang ke Salita, kos dia, belum lagi masuk aku sudah punya kesan, orang ini anak orang kaya. Karena kosnya yang megah dan mewah. Sama sekali tidak sebanding dengan kosku yang sangat amat sederhana di rumah seorang penjual jamu. Lagi-lagi pola pikiran yang terbentuk saat aku SMA bekerja. Selalu melihat dengan kacamata perbedaan status dan golongan. Pola pikir yang juga masih terseret hingga sekarang.

Saat aku bertemu dengannya, dan tentu bukan hanya berdua tetapi dengan teman lain, dua hal yang langsung aku tangkap tentang dia adalah. Orangnya kecil. Bahkan mungil. Asti, termasuk orang kecil. Tetapi dia tidak mungil. Mungkin tingginya sekitar 150 cm saja.

Hal yang kedua yang langsung aku tangkap dari dia adalah orangnya kidal. Tetapi sesaat kemudian aku ubah menjadi orang yang tidak kidal tetapi punya sifat kidal. Tangan kirinya banyak beraktivitas. Saat berbicara tangan kirinya yang juga banyak bergerak. Pada suatu saat setelah aku kenal lama aku sempat tanya kondisi itu. Dia jawab bahwa saat kecil dia memang diasuh oleh bibinya yang kidal. Sehingga memang ada sedikit sifat kidal pada dirinya. Tidak terlalu salah pendapat awalku.

Selanjutnya banyak hal yang menjadikan aku bisa dekat dengan dia. Satu kelas, satu dosen pembimbing, satu kelompok saat Ospek dan sebagainya. Kalau aku males di kos yang mainnya ke Salita. Kalau dia butuh motor ya seringnya pinjam ke aku. Padahal motorku paling jelek. (Mungkin karena paling jelek itu ya terus sering dipinjam).

Tetapi yang jelas aku lebih dekat dengan dia dibanding yang lain. Setelah dia pergi, salah satu temanku (nama dirahasiakan saja) justru suka padanya. Heranku kenapa tidak dulu-dulu pas dia belum pergi. Tetapi kemudian tidak jelas gimana kisah itu. Belum lama ini aku tanya kepada teman tersebut sebenarnya gimana, dia hanya tertawa dan mengakui tak berani melanjutkan karena merasa dia bukan kelasnya Arina. Lagi-lagi masalah kelas.

Awal-awal dia pindah masih beberapa kali ada komunikasi dan bertemu dengannya. Tetapi kemudian hilang kontak. Sempat komunikasi lagi saat aku minta tolong cari bahan skripsi di perpustakaan UGM. Kemudian lama tidak kontak lagi.

Saat aku sudah nikah bisa komunikasi dan waktu itu dia bilang akan segera nikah. Janji mau ngabari tetapi aku tunggu-tunggu kabar itu tak pernah datang. Bahkan nomor hpnya tidak bisa lagi dikontak.

Sebenarnya tidak sulit mencari kontaknya. Karena tinggal telepon rumahnya. Tetapi aku tidak melakukan hal itu. Sempat juga ketemu dan wawancara dengan ayahnya. Tetapi aku tidak enak mengatakan aku adalah teman putrinya dan minta no telepon.

Baru kemudian pada 2010 aku kontak lagi sama dia lewat facebook. Baru dia bilang tidak mengbari pas nikah karena HPnya hilang jadi nomorkupun hilang.

Kini perempuan mungil itu sudah punya dua buah hati. Satu kesanku pada ibu satu ini, dia wanita yang sangat hati-hati dalam bersikap dan berbicara. Salah atau benar? lagi-lagi bukan perkara penting.

BERSAMBUNG…

Facebook Comments

Comments are closed.