For full functionality of this site it is necessary to enable JavaScript. Here are the instructions how to enable JavaScript in your web browser.

Menemukan dunia, mengenal cinta

Tahun 1982 aku lulus dari SD. Dengan NEM 35,5 aku bisa masuk dengan mudah di SMP 1 Karangmojo. Sekolah paling favorit di kecamatanku bahkan cukup diperhitungkan di tingkat kabupaten. Ini juga merupakan sekolah dari seluruh keluargaku. Jarak dari rumah ke sekolah sekitar 2 km. Jadi menggunakan sepeda menjadi hal yang paling pas untuk jarak ini.

Orang pertama yang aku kenal di SMP ini adalah Ristanto. Anak dusun Wiladeg yang juga sama-sama mendaftar. Pertama aku ketemu anak ini terkesan ragu-ragu karena NEMnya cukup mepet. Namun akhirnya dia keterima juga.Bahkan akhirnya bisa sama-sama di kelas D.

Sempat lama tidak berkomunikasi dengannya, saat lebaran 2008 aku akhirnya ketemu dengan Ristanto dan ngobrol cukup lama. Mulai saat itu kami sering komunikasi. Pada Lebaran 2009 aku sempat bermain ke rumahnya dan mendapat gratisan satu ekor burung penthet miliknya. Dia memang kemudian menjadi salah satu teman terbaikku.

Di sekolah ini aku mulai menemukan dunia baru. Lingkungan lebih luas dengan orang-orang dari berbagai daerah. Aku juga mulai merasakan persaingan ketat dalam soal otak. Sesuatu yang tidak pernah aku alami sebelumnya.

Namun apesnya, kelasku tempat berkumpulnya orang-orang pinter. Dua Siti, yakni Siti Muawanah Barozi dan Siti Fathonah adalah dua orang terpintar di seluruh kelas I.Dan keduanya ada di kelasku. Jadi sangat berat untuk menjadi yang terbaik di kelas.

Walikelas pertamaku adalah bu Rini.Aku lupa nama lengkapnya. Dia adalah guru seni musik yang gemar berdandan. Wajahnya juga mirip orang china.

Banyak teman di SMP ini yang masih berkomunikasi hingga saat ini. Lilik (sekarang jadi polisi) Sujat, Ari (brimob),Ristanto (pemborong), Nana (guru), Ambar, Ida, Yudi, Mumun, Wagiyanto, Sriyanti, Barjono, Iswanto, Novita, Sumirahayu, Nurmiyati, Catur dan banyak lagi.

SMP menjadi dunia tempat aku pertama mengenal cinta. Kabar aku pacaran dengan seseorang langsung tersebar kemana-mana. Aku yakin para guru pun tahu. Aku sempat khawatir dimarahi guru. Aku lebih takut lagi ketika ibuku tahu. Suatu hari sepulang sekolah aku pernah dibuat ciut saat foto seseorang yang aku simpan di dalam buku terpajang rapi di mejaku dan dikasih pigura pula. Ini pasti dilakukan Ibuku. Artinya Ibuku sudah tahu.

Aku pikir Ibu akan marah. Ternyata tidak. Ibu cuma bilang “Masih kecil kok pacaran. Sekolah dulu”. Aku cuma tersenyum kecut.

Apapun kata orang, sosok ini yang ikut membentukku.  Dari dia aku untuk pertama merasakan rindu, sayang, cemburu dan sebagainya. Berkali-kali putus nyambung putus nyambung juga menjadikan ajang latihan bagiku mengatasi konflik Bisa dibilang pacaran kami lebih banyak marahannya daripada akur. Sedikit-sedikit marah. Padahal kalau lagi akur juga tidak berani apa-apa. (Selanjutnya SENSOR)

Pacaran pertamaku berakhir.  Komunikasi kami bertahun-tahun putus total dan pulih kembali saat ada reuni kelas. Ketika duduk di kelas II SMA hubungan kami sempat baik lagi. Bebrapa kali aku ketemu. Hingga ibu sempat bertanya apa aku pacaran lagi sama dia? Tentu saja aku jawab tidak. Gak kepikiran soal itu. Dan setelah itu komunikasi hilang lagi. Sampai akhirnya aku mendapat kontak dia. Pada Lebaran 2009 aku telepon dan silaturahmi berjalan lagi sebagai seorang teman

Masa SMP menjadi waktu penting dalam proses pembentukanku sebagai manusia.Banyak hal yang tidak bisa aku lupakan. Dengan menggunakan sepeda angin aku menjelajah ke banyak tempat yang sebelumnya belum pernah aku sentuh. Kalau aku melintas jalur itu sekarang ini kadang aku tidak percaya dulu aku pernah melewatinya dengan sepeda.

Hampir setiap malam minggu aku dan teman-teman mblayang kemana suka. Aku mulai punya keluarga lain. Dan saat itu aku benar-benar merasa ada. Ibu bapakku juga tidak banyak melarang dengan apa yang aku lakukan.

Aku juga pernah dibuat pucat pasi saat dipanggil Bu Rowi, guru BP. Saat itu dipanggil BP pasti ada masalah besar. Benar saja. Bu Rowi menemuiku dengan membawa amplop putih. “Dapat surat Mir tapi tidak ada nama pengirimnya” kata beliau. Itu artinya surat itu harus aku buka dan aku baca di depan beliau. Aturannya memang begitu karena dicurigai ssurat itu surat cinta.

Surat yang ditunjukkan Bu Rowi benar-benar membuat aku pucat pasi.  Tanpa perlawanan akhirnya aku buka surat itu. Aku bingun baca isinya. “Apa isinya, Mir” tanya Bu Rowi. Aku langsung menyerahkan surat itu ke beliau. Bu Rowi pun bingung dan kemudian tertawa. “Ini maksudnya apa?” tanyannya. “Ya saya juga tidak tahu”. Akhirnya surat itu diserahkan sambil nyuruh aku kembali ke kelas.

Aku benar-benar bingung dengan surat itu karena isinya cuma “MAAF YA MIR AKU CUMA MENCOBA PULPEN BARUKU. BAGAIMANA PENDAPATMU, BAGUS TIDAK?” Cuma itu saja tulisannya. Aku tidak kenal itu tulisan siapa karena dari carannya menulis kelihatan memang sengaja bukan gaya tulisan aslinya.Sampai sekarang aku juga tidak tahu siapa penulis surat itu

Waktu SMP aku juga punya teman yang sebelum dan sesudahnya tidak pernah aku temui punya sifat yang sama. Namanya Ida Widiastuti. Anak ini aneh. Gampang sekali nangis. Kalau misalnya pas pelajaran seni musik kemudian menyanyi di depan kelas dia tidak pernah bisa menyelesaikannya. Selalu menangis di tengah-tengah lagu dan berlari ke tempat duduknya. Aku benar-benar tidak paham kok bisa seperti itu. Padahal suaranya bagus dan anakknya juga tidak pendiam. Harusnya mentalnya tidak selemah itu.

Aku pernah iseng pura-pura marah dan menatapnya cukup lama. Ternyata dia pun akhirnya menangis ketakutan. Tidak tahu sekarang Ida ada di mana.

Hal paling konyol yang tidak bisa aku lupakan adalah kejadian yang menimpa Barjono. temanku asal Slametan yang memang agak pelosok. Suatu hari dia masuk sekolah tanpa memakai sepatu. Sudah begitu datangnya terlambat pula saat guru sudah di kelas. Aku ingat waktu itu pelajaran Bahasa Indonesia, gurunya Bu Puji. Kejadiannya di kelas I. Begitu mau masuk kelas Bu Puji kaget dan langsung tanya kok tidak pakai sepatu.

Barjono yang wajahnya sudah keliatan lucu itu hanya ketawa sambil garuk-garuk kepala. Bu Puji dan teman-teman makin bingung. “Malah tertawa. Kamu itu kenapa kok tidak pakai sepatu ke sekolah?” ulang Bu Puji. “Anu Bu, saya lupa pakai sepatu. Ingat-ingat sudah di jalan. Mau pulang lagi sudah jauh,” Seisi kelas tertawa keras. Termasuk Bu Puji yang sampai harus duduk karena tertawa. Sementara Barjono duduk di kursinya. Lupa kok lupa pakai sepatu. Bisa-bisanya. Jangan-jangan nanti lupa pakai baju. Kalau ingat itu aku masih tertawa.

Saat aku ceritakan kejadian itu ke istri dan anakku, mereka pun tertawa cekikikan. Bahkan saat menulis ini pun aku tertawa terbahak-bahak.

Tanpa sengaja pada 2008 aku mendapat nomor kontaknya. Mulailah kami bisa berkomunikasi. Dia memutuskan pulang dari Jakarta dan kembali ke kampung halamannya dengan menekuni usaha mebel yang dipasarkan hingga Jakarta. Alhamdullilah. Ikut senang mendengarnya. Sayang, sampai tulisan ini aku buat, belum sempat menemuinya.

Banyak teman yang akhirnya bisa berkomunikasi lagi. Sriyanti, salah satunya. Dia menjadi bidan di daerah Dukun, Magelang. Daerah yang dulu sempat aku sering kunjungi saat meliput erupsi Merapi 2006. Dengan ibu satu ini masih kerap komunikasi dan saling ledek pada kisah-kisah masa lalu.Ya ya ya…saya pegang beberapa rahasia dia. hahaha

Iswanto, juga sering berkomunikasi. Dia berada di lampung dan mengelola ratusan hektare hutan. Alhamdulillah semua dalam kabar yang menyenangkan.

Tiga tahun di SMP aku menemukan dunia lain. Aku benar-benar merasa ada. Aku mendapatkan banyak teman, pengakuan, dan cinta pertama. Sesuatu yang nantinya aku sadari tidak aku temui lagi di masa lain. Hingga kalau ditanya teman mana yang paling dirindukan? jawabanku tegas. TEMAN SMP!!!

Facebook Comments