For full functionality of this site it is necessary to enable JavaScript. Here are the instructions how to enable JavaScript in your web browser.

Dem dem po dan menuju titik balik

Seperti umumnya anak, masa kecilku penuh bahagya.bahkan aku merasa beruntung karena dilahirkan di keluarga yang pada masa itu cukup terpandang.Bapakku seoarang penyuluh agama Islam.Sedangkan ibu juga sebagai PNS.yakni seorang guru agama di SD Muhammadiyah Sumberejo. Kala itu hal yang luar biasa suami istri sama-sama menjadi PNS.

Selain terpandang secara status, secara ekonomi keluargaku juga cukup terpandang. Bahkan keluargaku adalah yang pertama memiliki pesawat televisi. Hingga tidak akan pernah aku lupakan bagaimana ramainya rumah kami setiap sore dan malam karena banyaknya orang yang datang untuk menonton acara televisi yang saat itu hanya ada.stasiun TVRI. Terlebih saat malam minggu saat ada acara ketoprak. penonton dari luar kampungku pun ikut datang. Tak perduli hujan deras sekalipin.
Aku juga ingat ketika ada siaran langsung tinju Muhammad Ali, bapak sampai harus melepas dinding rumah yang terbuat dari kayu karena jumlah penonton yang membeludag.

Bapakku juga menjadi satu dari sedikit orang yang sudah memiliki sepeda motor saat itu. Honda C90 warna biru adalah motor pertama bapak. Motor itu kemudian diganti Suzuki A100 warna orange yang dibeli dalam kondisi baru.

Karena secara ekonomi lebih mampu itu yang membuat aku lebih beruntung dibandingkan anak-anak lain dalam hal mainan. Banyak mainan yang saat itu anak lain tidak punya, aku sudah bisa memilikinya. Salah satu yang aku ingat adalah mobil-mobilan bertenaga batere.

Mainan itu benar-benar masih langka saat itu. Hingga ketika aku nyalakan, anak-anak lain langsung berkumpul untuk ikut melihat. Pernah suatu hari aku diajak ibu ke sekolah dan mainan itu aku bawa. Saat aku mainkan, hampir seluruh siswa SD.itu berkumpul ingin melihat. Tapi karena jailnya aku, mobil itu rusak ditanganku sendiri, Satu persatu bagian mainan itu aku lepasi hingga mobil-mobilan warna kuning itu berakhir ceritanya.

Mainan lain yang sudah aku miliki saat anak lain masih belum bisa menikmatinya adalah sepeda roda tiga. Aku tidak ingat kejadianya, tapi ketika aku besar ibu ceriita kalau sepeda itu dibeli karena terpaksa. Saat aku diajak ke wonosari, ibu kota Kabupaten Gunungkidul, tiba-tiba aku nyelonong masu toko sepeda dan langsung duduk di sebuah sepeda roda tiga. Aku, kata ibuku, sudah tidak mau lagi diajak pulang tanpa sepeda itu. Jadi terpaksalah sepeda itu dibeli.

Tapi seingatku aku belum bisa menikmati sepeda itu. Mungkin karena masih terlalu kecil. Sepeda itu justru rusak karena dipakai kakak-kakakku.

Saat aku sudah SMA, suatu hari saat aku membuat kubangan sampah aku menembukan sebatang besi dengan lingkaran roda di satu ujungnya. Itu adalah as dan roda sepedaku dulu.

Namun begitu, aku tetap seperti anak dusun lainnya yang banyak menghabiskan waktu bermain di lingkungan terbuka. Bermain pasir di pinggir kali merupakan salah satu yang sering dilakukan.

Membuat dem dem po, adalah hal yang pasti dilakukan di pasir.Dem dem po merupakan bola yang dibuat dari pasir. Caranya cukup gampang. Kami mengambil pasir sebanyak-banyaknya dengan dua telapak tangan. Selanjutnya dengan telapak tangan itu pasir dimasukan ke air. Setelah basah, pasir kemudian dipadatkan dan dibentuk bulat.Ketika sudah gak kuat bola pasir itu kemudian ditutup dengan pasir kering.Jari telunjuk kami kemudian berputar-putar menyigkirkan pasir kering yang menutup dem dempo sambil bernyanyi yen lanang nguyuho yen wedok ngendoko (kalau cowok kencinglah kalau cewek bertelyrlah).Lagu itu terus dinyanikan sampai pasir kering yang menutup dem dem po tersingkir semua. Setelah itu bola pasir itu kami angkat dan langsung dilihat di dasar tempat dem dempo diletakkan. Kalau basah berarti dem dem po kami laki-laki karena kencing. Tetapi kalau ada butiran-butiran pasir basah berarti perempuan. Sulit untuk membedakan mana perempuan mana laki-laki karena di
dasar pasti basah karena yang diletakkan adalah pasir basah dan selalu ada butiran pasir karena memang itu lahan pasir. Tapi biasanya anak-anak cenderung menyatakan dem dem po miliknya adalah laki-laki karena dinilai lebih kuat.

Dem dem po itu kemudian saling diadu.Kami membuat jalur di pasir yang bentuknya melengkung ke bawah. Lalu dua dem dem po di llepaskan dari dua ujung jalur hingga berbenturan di dasar jalur. Yang dem dem ponya pecah dialah yang kalah.

Seingatku aku lebih sering kalah hingga pernah karena jengkel aku berbuat curang dengan membuat dem dem po dari tanah liat yang aku lapisi pasir.Tentu saja kemudian dem dem po ku menang.

Hal lain yang sering kami lakukan adalah mencari batu yang keras. Anak-anak menyebutnya dengan watu thithik. Kami mencari dua batu yang paling keras untuk dibawa pulang. Malamnya, dua batu itu dipukulkan dengan disrempetkan hingga mengeluarkan percikan api. Semakin besar percikan api yang muncul maka batu itu smakin jagoan. Permainan ini yang menjadikan ketika sekolah aku diterangkan cara manusia purba bikin api dengan mudah aku bisa membayangkannya.

Mandi di kali juga menjadi hal yang cukup sering dilakukan. Sayang, di antara teman-temanku, aku paling jarang mandi di kali karena dilarang bapak dan ibu. Pasti karena khawatir aku hanyut karena kali di dekat rumahku arusnya memang lumayan deras dan dalam. Kalau nekat. Dan setidaknya mandi di kali memberi aku kemampuan berenang. Aku bahkan sempat heran ketika tahu ternyata banyak orang yang tidak bisa berenang. Karena bagiku berenang itu pekerjaan gampang. Namun dibanding teman-temanku aku tetap kalah dalam hal mandi dikali. Teman-temanku berani melompat dan bersalto dari tebing sungai. Tapi aku tidak. Melompat berani, tapi salto tidak pernah bisa.

Dalam soal mainan aku memang tidak begitu pintar. Aku tidak sepintar teman-teman dalam menciptakan mainan. Membuat mainan dari tanah liat misalnya aku selalu kalah. Dalam hal ini membuat mobil-mobilan balap seperti F1 adalah yang paling sering aku lakukan. Karena bisanya aku ya cuma itu. Sementara teman-temanku bisa membuat berbagai bentuk yang bagus.

Yang jelas aku benar-benar tumbuh sebagai anak desa yang akrab dengan lingkungan sekitar. Bermain layang-layang, memancing di sungai, berburu belalang di tengah hujan, mencari jangkrik dan mengadunya, menyusur sungai dan masuk sawah dengan bapak untuk mengawasi bebek-bebek kami, dan sejenisnya adalah hal-hal yang aku lakukan di masa kecil.

Bermain-main di mbelik yang ada di dekat rumah juga sering aku lakukan dengan teman-temanku.Kami duduk-duduk sambil makan buah elo yang besar. Tepat di bawah elo itu mata air berada.Sayang pohon itu ditebang saat mbelik dibangun permanen.

Buah elo besarnya hampir sama dengan bola tenis meja. Rasanya sangat manis. Ketika tahun 2005 aku ke Bali ketemu buah ini di depan Batik Galuh. Aku tanya pada satpam yang ada di sana apa nama buah ini kalau di Bali. Dijawabnya buah Ee. Jadi tidak pakai Lo.

Getah pohon Elo ini juga sering digunakan untuk obat anak yang sedang sakit panas. Aku pun sering dikasih jika lagi sakit. Getah pohon ini dicampur gula jawa lalu diminum.

Jika malam sebelum tidur salah satu dongeng yang sering diceritakan adalah uthak uthak ugel. Dongeng tentang anak nakal bernama uthak uthak ugel yang sangat senang dengan buah elo. Karena serakah tidak mau berbagi dengan temannya perut uthak uthak ugel pecah karena kebanyakan makan buah elo. Kalau pas didongengkan kisah itu yang aku bayangkan uthak uthak ugel itu sedang manjat pohon elo yang ada di dekat rumahku.

Dulunya aku pikir cerita itu hanya karangan bapak atau ibuku sendiri. Tetapi ketika aku sudah bekerja sebagai wartawan aku datang pada acara yang menghadirkan bintang-bintang sinetron Keluarga Cemara ada dongeng yang disampaikan abah kepada anak-anaknya. Aku tersentak. Dongeng yang disampaikan adalah uthak-uthak ugel. Nama buahnya pun sama yakni Elo. Ceritanya juga sama. Aku baru sadar ternyata memang ada dongeng itu.

Saat aku sudah punya anak, pernah aku dongengkan Uthak Uthak Ugel ini. Tapi dua anakku bingung dengan apa itu buah Elo karena memang belum pernah melihat. Daripada kerepotan akhirnya aku ganti buah elo dengan buah anggur. Yang penting pesan agar tidak jadi orang serakah tetap ada.

Ada begitu banyak yang diberi dusun ini dalam awal kehidupannya. Di dusun ini aku pernah mengenal cinta yang aneh. Ketika aku bertemu dengan seorang gadis asal Jakarta yang orang tuanya lahir di kampung ini. Bahkan rumah familinya ada di depan rumahku. Sejujurnya nama lengkapnya aku lupa, kecuali ‘Sri’. Aku sebut saja kisah ini aneh, dan tidak bisa aku ceritakan dengan rinci. Yang pasti ada banyak hal yang aku dapat dari dia.

Beberapa hal lain yang tidak bisa aku lupakan antara lain ketika aku masih sekitar berusia 6 tahun kaki kiriku masuk ke ruji sepeda saat diboncengkan Mas Abbas, kakak keduaku. Luka jahit di atas tumit hingga saat ini masih ada. Mungkin itu yang membuat kejadian itu tidak bisa dilupakan. Sepeda yang mencelakaknku itu akhirnya hilang saat ada pencuri membobol rumah kami. Seingatku dua kali rumah kami dimasuki maling. Aku tidak ingat apakah malingnya tertangkap atau tidak. Selain sepeda, lampu petromak kami juga dibawa maling. Waktu itu lampu petromak memang tidak banyak yang punya.

Meski bapak dan ibu merupakan tokoh agama di dusunku, tapi aku merasa pendidikan agama di keluarga tidak terlalu ketat. Bahkan aku mulai bisa baca Al Quran ketika aku SMP. Waktu itu bapak memang jarang mengajari kami baca Quran. Mungkin anak-anaknya juga malas atau takut kalau diajari bapak yang tidak sabaran mengajari anaknya Bukan hanya ngaji, saat mengajari pelajaran umum, jika diajari oleh bapak selalu berakhir dengan tangis anaknya.

Anak-anak Jlantir I melakukan kegiatan agama awalnya di sebuah langgar atau mushola milik Mbah Muh yang juga seoarang bong atau tukang sunat. Jika puasa tiba, salat tarawih dilakukan di rumah Mbah Muh ini karena langgarnya terlalu kecil untuk menampung jemaah. Kata ibuku, mbah muh itu spantaran simbahku yang tidak penah aku temui karena meninggal jauh sebelum aku lahir. Sekitar 1989 dusun kami ahirnya punya masjid yang dibangun di lahan wakaf Mbah Muh. Kegiatan agama pu  pindah ke masjid ini. Bapakku, menjadi salah satu orang yang punya peranan penting dari pembangunan masjid ini. At Taqwa nama masjid itu juga dimunculkan oleh Bapak.

Kalau aku mengingat masa kecil, aku merasa tidak ada masalah waktu itu. Semua berjalan dengan baik dan penuh kebahagyaan. Hingga suatu malam, tepat ketika paginya ibu harus pergi ke luar negeri, sesuatu terjadi. Sesuatu yang akhirnya menjadi salah satu titik balik perubahan kehidupan keluarga kami.

Facebook Comments

Comments are closed.