For full functionality of this site it is necessary to enable JavaScript. Here are the instructions how to enable JavaScript in your web browser.

Bertemu cinta sejati di masa sulit

Tahun 1991 aku lulus dari SMP dengan nilai yang cukup bagus hingga aku bisa masuk ke SMA 1 Wonosari. SMA terbaik di Kabupaten Gunungkidul. Dua kakakku, Mas Nur dan Mas Abbas juga alumni SMA ini.

Sekolahku terletak di ibukota kabupaten. Sekitar 12 km dari rumahku. Naik angkutan umum menjadi pilihan. Baru setelah kelas III aku punya motor untuk dipakai sekolah.

Aku mengalami perubahan sikap saat masuk SMA. Entah kenapa aku mempunyai rasa minder. Aku benar-benar merasa anak kampung. Aku mulai kena masalah kesenjangan budaya. Dari orang yang cukup punya arti saat SMP aku menjadi orang yang merasa tidak berguna.

Secara nyata aku menemui perbedaan kelas. Orang-orang berkelompok atas dasar kelas-kelas tersebut. Sesuatu yang sebelumnya tidak pernah aku temui. Dan aku tidak suka itu.

Dan seperti pada umumnya kelas atas yang berjumlah sedikit menjadi bagian yang paling dominan. Aku merasa bukan di kelompok itu karena banyak ketidaknyamanan ketika bersama mereka.

Satu tahun awal aku benar-benar tidak nyaman. Tidak aku temui teman yang benar2 pas di hati. Bahkan aku pernah ingin pindah saja dari sekolah itu. Namun nitan itu tak pernah aku sampaikan ke bapak dan ibu.

Yang pasti nilaiku jeblok. Aku masuk rangking 10 dari bawah. Gila. kondisi yng belum pernah aku alami. Bahkan pernah nilai agamaku di rapor 6. Bapak ibu marah betul. Aku pun protes pada guru agama dan meminta daftar nilai selama satu semester. Akhirnya guru agamaku menerima protesku dan menaikkan nilai jadi delapan. Aku waktu itu bilang sama guruku “Pak, hanya bajingan yang dapat nilai agama 6. Sedang saya bukan bajingan,”

Kelas I benar-benar masa sulit bagiku. Aku benar-benar kebingungan tidak tahu harus bagaimana. Soal cewek? gak sempat mikir. Hanya memang aku sempat tertarik pada seseorang yang bernama Tyastiti Wardhani. Dia ada di kelas I-3 sementara aku di I-4. Orang ini mirip betul sama Mbak Eni, istri Mas Abas. Dari posturnya, wajahnya sampai tutur katanya.

Tetapi ketertarikan itu tak pernah aku sampaikan. Gila apa? Dia dari kelompok atas dan terlalu banyak yang tertarik padanya. Tak pernah tersampaikan bahkan tak ada orang yang tahu. Apalagi Tyas.

Apa yang terjadi terkait Tyas adalah salah satu bukti rendahnya mentalku saat itu. Hanya kepada Tyas aku tidak berani mengatakan rasa ketertarikanku. Kepada yang lain aku berani, meski dalam kondisi paling gila sekalipun. Tyas, hanya satu kisah kecil. Tak meninggalkan arti banyak dalam hidupku.

Karena tidak nyaman aku juga sering membolos. Berangkat dari rumah tetapi tidak sampai sekolah. Bahkan kadang sampai Jogja tanpa ada maksud apa-apa. Aku juga mulai kecanduan rokok. Hingga kemudian bapak menyerah dan membolehkan aku merokok.

Berbagai kegiatan sekolah jarang sekali aku ikuti. Bahkan pramuka sama sekali tidak pernah masuk. Hingga saat hendak kemah baru kebingungan karena tak punya regu. Akhirnya bertemu dengan orang-orang pemalas yang juga belum punya regu. Jadilah kami satu regu. Bisa dibayangkan bagaimana regu yang terdiri dari orang-orang pemalas.

Berangkat kemahpun dengan malas-malas. Banyak barang yang tidak dibawa sampai akhirnya harus minta-minta regu lain. Kalau perlu mencuri.

Sampai lokasi kemah di pusat latihan tempur TNI Kemuning, Paliyan, kami langsung berbuat curang dengan memindah lokasi tenda hasil undian dengan lokasi lain. Alasannya lokasi yang kami dapat dari undian tidak aman kalau hujan. Berada di posisi bawah. Maka kamipun memindah nomor petak. Kami dapat lokasi di atas. Dan benar juga, malamnya hujan dan lokasi yang seharusnya menjadi tempat kami tergenang air. Untungnya kami pindah di lokasi yang aman.

Ada beberapa nama anggota regu yang kemudian menjadi teman akrab. Salah satunya Edi Sumantoro yang biasa dipanggil Gembuk. Yang lain kok aku lupa ya…Ada juga Edi yang lain tetapi dia kemudian pindah sekolah.

Kecurangan kami tak sampai di situ. Malamnya kami sadar tidak punya minyak tanah. Niatnya mau beli di jalan tetapi kelupaan. Akhirnya yang ada hanya jerigen kosong. Apa boleh buat kami pun mengendap-endap ke tenda orang lain.

Setelah kami kosongkan jerigen regu lain, kami masih belum puas. Kami ganti isinya dengan kencing kami dan meletakkan di luar tenda.’

Paginya kami hanya tertawa diam-diam saat melihat regu tersebut susah ppayah menyalakan arang untuk masak. Merekapun berlari ke tenda kami. “Minta minyak dong, minyakku kemasukan air hujan” kata salah satu anggota mereka. “Oooooo silahkannnnnn, ambil sajaaaaaa,” jawab kami serempak sambil senyum-senyum. Dalam batinku cuma bilang “Wong itu juga punya kalian.”

Kami jadi regu paling ramutu benar. Sampai-sampai saat kemah berakhir dan bongkar tenda kami berteriak-teriak mengumumkan barang siapa kehilangan barang silakan datang ke tenda kami. Ada senter, alat masak, baju, panco, semua hasil curian. Benar-benar sinting.

Pas lomba masak lebih menjijikkan lagi. Yang kejatah masak aku sama Gembuk. Masak dengan bahan ketela. Pun harus minta ketela ke regu lain karena memang tidak tau ada kewajban bawa barang tersebut. “Aku yang masak Din. Kamu duduk saja” Kat Gembuk.

Ketela pun direbus kemudian dihancurkan seperti gethuk. Setelah itu akan digoreng. Tapi kurang ajarnya pas sudah jadi adonan. Gembuk memberi barang-gethuk menjijikkan seperti ludah dan upil. Aku hanya tertawa.

Jadilah enam buah makanan. Kita ajukan ke juri dan saat diambil tinggal dua. Hebatnya lagi regu kami juara II saat lomba masak. Aku cuma cengar cengir saja.

Tapi kami kuwalat saat lomba merayap. Aturannya menyentuh satu jebakan di atas kami merayap hukumnnya push up 15 kali. Lha, Gembuk badannya tambun. Tak terhitung berapa jebakan yang dia sentuh. Kami mendapat hukuman push up ratusan kali. Sampai akhirnya disepakati untuk

Tak terhitung berapa jebakan yang dia sentuh. Kami mendapat hukuman push up ratusan kali. Sampai akhirnya disepakati untuk dicicil. Setiap ketemu pembina yang ngawasi lomba kami harus push up semampu kami sampai utang hukuman lunas.

Kemah menjadi pengalaman konyol pertama di SMA. Tapi aku menikmatinya.Tetapi ini menjadi awal aku sadar banyak orang yang bisa dijadikan teman menyenangkan. Gembuk, kemudian menjadi salah satu teman terbaik sampai sekarang.

Naik kelas II aku masuk jurusan A3 atau sosial. Otakku gak sampai untuk masuk IPA. Gembuk masuk A4 atau bahasa tetapi kemudian pindah ke A3 dan jadi satu kelas denganku di A3-1 karena A3 ada dua kelas.

Aku mulai dapat teman akrab di kelas ini. Gembuk, Atmaji, Banarta, Mamad, Anto, Harnowo, dll. Meski ada beberapa orang dari kelompok atas tetapi mereka tak mampu mendominasi kelas kami. Kondisi lebih terasa nyaman. Bahkan orang-orang yang semula aku masukkan dalam kategori tinggi seperti Tutik, Kitong. Dedi, kini mulai bisa aku bergaul secara nyaman. Prestasiku pun membaik dengan masuk papan tengan.

Hanya saja masa-masa itu telah membawa aku pada satu sikap mengalir dalam kehidupan. Banyak keberanianku yang luntur pada masa itu. Aku menjadi sosok yang minim berkehendak. Hanya menerima apa yang terjadi dan menjalaninya.

Sampai suatu saat, aku lupa hari dan tanggal pastinya. Yang jelas pada 1992. Awal kelas II. Aku ingat duduk di deretan paling depan di pojok kelas. Saat aku butuh penghapus aku pinjam sebuah penghapus di meja belakangku. Sebuah penghapus stleader biru bertuliskan nama ASTI. Saat aku mengembalikan penghapus itu aku tanya pada teman di belakangku. “Kamu yang namanya Asti?” Waktu itu kelas II memang gabungan dari berbagai siswa di kelas I, jadi belum semua kenal. Apalgi aku kelas I begitu kuper.

Teman di belakangku menggelengkan kepala dan menunjuk gadis di belakangnya.”Ooo itu asti,” kataku.

Seorang gadis berambut cepak, hidung mancung, kecil. Aku terkesima. Tidak tahu kenapa. Dan dalam beberapa hari kemudian gadis ini menjadi pusat perhatianku. tapi tak pernah berbincang sedikitpun. Kurang dari seminggu aku nekat kirim surat ke dia. Bilang kalau aku mencintainya. Konyol. Tentu saja ditolak.

Tetapi entah kenapa aku punya feeling kuat pada gadis itu. Aku punya keyakinan akan bisa mendapatkannya. Entah kapan dan bagaimana caranya. Sehingga ditolak tidak menjadikan aku surut langkah.

Dan bisa ditebak, kasusku ini langsung menyebar sedemikian cepat. Aku baru sadar, Asti begitu dekat dengan orang-orang atas yang aku sebutkan tadi. Dia dikepung oleh orang-orang itu sehingga aku begitu sulit untuk mendekatinya.

Wajar. Karena setelah aku cari informasi, ternyata bapaknya seorang pejabat yang cukup disegani. Beberapa saat kemudian bapaknya menjadi salah satu anggota Dewan Gunungkidul. Pantes saja, pikirku.

Aku merasa beberapa temannya melindungi dia dariku. Bahkan pada suatu saat, seorang temannya bilang padaku. “Asti itu pernah menolak anak seorang pengusaha kaya. Jadi kamu siap-siap saja kanjor”. Kanjor adalah bahasa gaul yang banyak digunakan waktu itu yang artinya kurang lebih hancur dan malu.

Jujur aku sakit hati dengan kalimat itu. Tapi anehnya aku tidak mau mundur. tidak ada sedikitpun niat untuk menghapus perasaanku padanya. Tetapi aku juga mengakui betapa sulitnya mendekati dia yang berada dalam lingkungan yang sepertinya menolakku.

Tapi jalan selalu ada. Ternyata salah satu tetanggaku adalah saudara Asti. Sering aku dititipi surat oleh tetanggaku untuk keluarga Asti. Pun juga kalau keluarga Asti kirim surat atau barang. Pasti lewat aku.

Sampai suatu hari, Bapak Asti titip buku tebal banget untuk tetanggaku. Saat menyerahkan buku tersebut Asti bilang “Di dalam ada surat buatmu”. Pastilah aku gembira. Tetapi saat kubuka hanya permohonan maaf karena sering merepotkanku. Bukan surat cinta.

Tetapi berawal dari surat itu kemudian aku sering bisa berkomunikasi dengan dia. Anehnya tetap lewat surat meski satu kelas. Karena memang sulit untuk bisa berduaan saja sama dia.

Akhirnya kami semakin kenal meski diam-diam. Beberapa kali juga aku punya kesempatan naik gunung bersama dia. Saat itulah aku bisa dekat Asti, karena dia jauh dari orang-orang yang melindunginya.

Aku sempat bilang lagi kalau aku mencintainya. Tetapi ditolak lagi. Aku mulai gentar. Jujur saja, aku sudah tersiksa dengan kondisi itu. Terlalu sulit. Ada niat untuk melupakan dia saja. Tapi itu baru sebuah niat.

Hingga menjelang naik kelas III, perjuanganku belum juga menunjukkan tanda-tanda berhasil. Aku mulai benar-benar putus asa.

Sampai ketika kenaikan kelas ada acara study tour ke Bali. Dari rumah aku sudah benar-benar malas berangkat. Aku membayangkan akan melihat Asti bergerombol dengan orang-orang yang menjaganya.

Ajaib. Aku malah bisa satu bangku sama dia di bus. Ini luar biasa waktu itu. Saat itulah untuk pertama kalinya aku bisa melihat wajah gadis ini dengan sedemikian dekat. Meski saat di Bali aku jarang bersamanya, tetapi setidaknya ada waktu untuk berbincang dengan dia di dalam bus. Jujur soal Bali tak ada yang berkesan sama sekali.

Dan akhirnya,18 Agustus 1993, akhirnya Asti menerimaku. Sebuah akhir dari perjalanan berat. Tetapi kemudian menjadi awal perjalanan yang tak kalah beratnya juga. Begitu banyak persoalan yang harus kami hadapi sebelum kemudian kami memutuskan untuk menikah delapan tahun kemudian atau pada 2001.

Ya, Asti yang aku kenal pertama lewat sebuah penghapus, berkali-kali menolakku, yang begitu sulit aku dekati akhirnya jadi istriku. Dan saat aku tulis ini, kami telah memiliki dua anak laki-laki, Ihza Kantata Mahasa,8, dan Moza Anoemoda Mahasa, 6. Saat aku tulis ini Ihza tengah pulas di sampingku sementara Moza terlelap sama bundanya di kamar lain.

SMA memang menjadi masa sulit dalam perkembangan mentalku. Tetapi masa itu pula menjadi bagian penting dalam hidupku. Aku bertemu jodoh.

Kesulitan masa SMA juga karena pada saat aku kelas II, bapak akhirnya meninggal dunia setelah sekitar 12 tahun mengidap diabetes.

5 Oktober 1992 bapak meninggal di RS.Sardjito setelah tiga hari sebelumnya kondisinya terus turun. Sebetulnya semua sudah menduga bapak akan segera meninggal. Tetapi tetap saja bapak dilarikan ke RS. Awalnya, bapak masuk ke RS Wonosari. Itu pada hari Rabu pagi.

Rabu siang, sepulang sekolah aku berniat ke RS menjenguk bapak. Kebetulan tempat biasa aku menunggu bus pulang ada di dekat RS itu. Tetapi sampai di tempat biasa nunggu bus, aku dicegat Udin, seorang penjual dawet yang menjadi langganan aku dan teman-teman. Dia bilang kalau bapakku dibawa ke Sardjito.

Aku pun langsung pulang dan segera berangkat ke Jogja dengan Mas Nur. Kami dalam kondisi ngantuk karena semalam tidak tidur menunggu bapak yang kondisinya sangat buruk. Kami sempat istirahat di Hargodumillah minum kopi. Aku bilang pada Mas Nur “Kayaknya kita harus siap-siap mental. Bapak kayaknya akan segera meninggal,” Mas Nur hanya mengiyakan ngomonganku.

Sampai Sardjito aku melihat Bapak sudah tidak sadar. Ibu masih berusaha memasukan obat dengan sendok ke mulut Bapak. Aku diam saja meski aku yakin itu sia-sia. “Obat apa lagi yang bisa menolong dalam kondisi seburuk itu” pikirku.

Malam aku tidur rumah sakit. Kamis siang, aku pamit sama ibu untuk pulang. Jumat ada ulangan Bahasa Indonesia. Ibu mengizinkn. Apalagi waktu itu Mbak Yanti, Mbak Wati dan Mas Nur standby di RS.

Sempat ragu aku pulang. Sampai 3 bus yang aku tunggu lewat aku belum naik. Baru bus keempat aku naik. Dan menjelang mahrib sampai rumah. Sepi sekali rumah, tak ada satupun orang. Aku yakin setelah mahrib akan datang orang ke rumah. Itu tradisi di dusun kami.

Mahrib aku wudu dan masuk rumah. Aku sngat terkejut, melihat bapak berdiri di samping tempat tidur beliau. Hanya hitungan sepersekian detik tetapi sangat jelas. Aku terkesima sebelum kemudian aku berteriak keras. Subari, tetanggaku segera datang setelah mendengar aku berteriak. Dia hanya diam saat ku ceritakan apa yang terjadi. Aku yakin pikiran dia sama dengan aku: bapak telah meninggal.

Benar saja, kurang dari 15 menit kemudian, aku mendengar suara motor melaju dengan kencang untuk kemudian berhenti di depan rumah. Pak Tukiman, kepala sekolah tempat ibu bekerja. Langsung mendekat, menyalami dan berkata “Yang sabar, bapak sudah pergi”. Aku menghela napas. Tidak tahu apa aku harus menangis atau justru bersyukur. Karena kalau melihat penderitaan bapak karena sakitnya, kematian sepertinya lebih baik.

Tapi aku akhirnya menangis saat ibu tiba dan langsung memelukku. “Bapakmu wis rana leee” hanya itu kalimat ibu. Dan aku pergi ke belakang rumah. Menangis di tempat itu. Tak ada satupun yang melarang aku untuk menangis…

Rapat keluarga pun segera digelar. Keluarga bapak sangat mendominasi. Diputuskan bapak dimakamkan di Sumberejo, dusun asal usul Bapak. Kami setuju saja. Tetapi kami menolak usulan pemakaman dilakukan malam itu juga sesuai ajaran bahwa jenazah harus segera dikubur. Ibu menolak dengan alasan jenazah bapak akan diikutkan salat jumat dulu di masjid. Alasanya. bapak ikut kerja keras membangun masjid kampung kami.

Usulan itupun disetujui. Jenazah bapak akhirnya ikut jumatan dengan khatib Ngadeni Al Huda, seorang ulama yang masih familiku juga. Itulah untuk kali pertama di kampungku jumatan ada jenazah. Sampai-sampai Pakdhe Ngadeni dalam kotbahnya menekankan bukan hal yang aneh dan dilarang jenazah ada di masjid dan ikut jumatan.

Setelah itu akhirnya bapak dimakamkan. Itulah akhir perjalanan seorang Syamiyo Abdul Aziz. Bapakku…

Facebook Comments

error: Content is protected !!