For full functionality of this site it is necessary to enable JavaScript. Here are the instructions how to enable JavaScript in your web browser.

Selamat jalan Ibu…

Senin, 16 Maret 1998

Biasanya hari Sabtu aku pulang ke Gunungkidul. Tetapi minggu itu tidak. Aku janjian sama Asti (sekarang istriku) untuk bersama-sama ke rumah ibunya di Boyolali dan menginap di sana.

Seminggu sebelumnya aku bersama Ibu bersama keluar dari rumah Mbak Yanti di Jogja setelah Ibu menjalani pemeriksaan kesehatan. Tetapi kemudian berpisah di jalan. Ibu pulang ke Gunungkidul dan aku langsung ke Solo. “Hati-hati. Kuliah yang benar,” pesan Ibuku. Aku tahu Ibu waktu itu merasakan bahwa hatiku sedang dalam kondisi gundah. Banyak sekali persoalan yang aku alami. Tetapi kami tidak punya banyak kesempatan untuk berbicara.

Sebelum berpisah aku bilang sama beliau kalau minggu depan tidak pulang karena harus ke Boyolali. Ibu tidak mempersoalkan. Memang sudah sering seperti itu. Dan beliau percaya anaknya tidak akan melakukan tindakan yang di luar batas.

Sabtu sore aku dan Asti akhirnya bertemu di Solo dan bersama-sama ke Boyolali. Senin subuh kami keluar dari rumah untuk kembali ke Solo dan Jogja. Kami berpisah di Terminal Tirtonadi. Aku ke kembali ke kampus dan Asti langsung ke Jogja.

Waktu itu situasi politik Indonesia lagi memanas. Demo di mana-mana. Rencanaku setelah kuliah pun akan ikut demo dengan teman-teman.

Sekitar jam 10.00 WIB aku masuk ruang kuliah. Aku lupa nama dosennya, yang jelas mata kuliahnya adalah psikologi komunikasi. Aku masuk kelas dan duduk di deretan dua dari belakang. Di depanku ada Tia.

Belum lagi dosen memulai kuliah aku melihat seorang melambai-lambai kepadaku dari luar. Wajahnya tidak begitu jelas terlihat. Aku pun keluar tanpa minta izin dosen, karena kuliah memang belum resmi mulai.
Saat dekat baru aku sadar siapa dia. Dodi. Anak Fakultas Hukum yang rumahnya tetangga dusun dengan aku. Masih sempat aku berpikir ada apa Dodi ke sini. Tak menunggu aku tanya ada apa, Dodi bilang kalau ada yang mencari aku. Sekarang sedang menunggu di parkiran.

Aku merasa ada yang aneh dan langsung bergerak ke parkiran. Keluar dari lobi fakultas aku melihat empat orang berdiri di dekat sebuah mobil. Aku langsung mengenalinya. Mereka adalah Pak Pri, tetanggaku yang juga masih saudara dengan Asti, Subari, tetangga depan rumahku, Basuki, ipar Subari dan Hartono, seorang pemuda yang biasa tidur di rumahku menemani Ibu.

Aku mendekat dengan perasaan yang kian aneh. “Ada apa Pak?” tanyaku ke Pak Pri. Aku pilih dia sebagai tempat bertanya karena dialah yang paling tua dari rombongan kecil itu.

“Ibu sakit keras, Mas Udin sekarang pulang saja saya,” kata Pak Pri.

Aku yakin ada yang tidak beres. Tetapi untuk memaksa Pak Pri berbicara jujur jelas tidak mungkin karena beliau lebih tua dari saya. Aku lantas memandangi Hartono yang biasa dipanggil Benthet. Refleks, benar-benar refleks, aku tampar wajahnya sambil berkata. “Katakan ada apa dengan Ibu.”

Hartono tak berkutik. “Iya, ibu seda (meninggal),” katanya pelan.

Hal pertama yang aku lakukan saat itu adalah berusaha untuk tidak menangis. Mati-matian aku melakukannya. “Tunggu sebentar saya ambil tas ke kelas dulu,” kataku.

Aku langsung lari ke kelas. Mengambil tas dan pamit dengan cepat kepada dosen yang tentu saja mengizinkan aku segera pulang.

Aku masih sempat mampir kos untuk mengambil sejumlah barang. “Kita lewat Jogja saja. Sekalian mengabari Asti,” kataku yang akhirnya disetujui. Asti harus dikabari karena dia sudah dianggap seperti anak sendiri. Aku tidak punya kontak telepon di Jogja untuk mengabari lebih efektif. Waktu itu handphone belum dikenal.

Baru di jalan aku bertanya bagaimana kronologi saat kematian Ibu. Pak Pri bercerita Ibu meninggal tanpa diketahui siapapun. Biasanya, setiap malam anak muda selalu banyak tidur di rumah, tetapi malam itu tidak ada sama sekali. Hujan turun deras sehingga tidak ada anak-anak datang.

Paginya, sekitar jam 6.00 WIB, pintu rumah dan lampu belum dimatikan. Padahal biasanya subuh ibu sudah bangun untuk salat dan mematikan lampu.
Kondisi itu membuat buliku, (adiknya Ibu) yang tinggal tepat di belakang rumahku curiga. Dia langsung meminta suaminya untuk melihat apa yang terjadi. Paklik mencoba mengetuk pintu dan memanggil-manggil tetapi tidak ada jawaban. Situasi sudah mulai panik hingga Paklik meminta bantuan tetangga yang lain. Pintu pun didobrak hingga mereka bisa masuk.

Benar saja. Ibu terbaring di tempat tidur dengan tangan bersedekap. Ibu sudah meninggal dunia. “Kemungkinan Ibu belum lama meninggalnya karena saat diraba badannya masih hangat,” kata Pak Pri.

Aku menangis saat itu. Yang aku bayangkan betapa ibu sangat kesepian malam itu. Sendirian menghadapi kematian yang entah apakah diawali dengan rasa sakit atau tidak. Di malam yang sepi, hujan dan dingin, ibu pergi begitu saja. Tanpa ada satupun yang ada di dekatnya. “Masya Allah….” hanya itu kalimat yang bisa aku ucapkan berkali-kali.

Sesampai di rumah Bu Lilis (yang biasa kami panggil Sibul), Tantenya Asti, aku tak ketemu Asti karena masih kuliah. Aku hanya menyampaikan pesan dan langsung cabut lagi.

Aku baru sadar perjalananku memakan waktu lama. Seharusnya jika aku langsung Solo-Gunungkidul tentu sudah sampai rumah. Tetapi karena kepikiran soal Asti akhirnya aku ke Jogja dulu.

Dalam perjalanan Jogja-Gunungkidul aku mulai resah. Takut aku tidak bisa menemui Ibu karena sudah dimakamkan. Aku yakin keluarga almarhum Bapak sudah ngotot agar jenazah segera dimakamkan. Karena bagi mereka saat jenazah sudah siap maka harus segera dimakamkan. Tidak ada alasan menunggu.

Aku hanya berharap keluarga Ibu punya kekuatan untuk ‘melawan’. Karena bagaimanapun aku sangat ingin bisa melihat beliau terakhir serta ikut menyolatkan.

Sekitar jam 14.00 WIB aku sampai di dusunku. Aku minta berhenti di pinggir jalan besar saja karena hujan pasti menjadikan jalan becek. Ya, rumahku ada di tengah perkampungan dengan jalan tanah yang kalau hujan sering merepotkan.

Begitu mobil berhenti aku langsung berlari. Subari mencoba menahan tapi aku tepis tanganya. Aku berlari sekencang-kencangnya melalui jalan becek. Sempat aku jatuh terpeleset tapi terus bangun dan berlari.

Sampai di depan rumah aku lega kondisinya masih ramai. Artinya Ibu belum dimakamkan. Aku melihat mbak Yanti berlari keluar rumah dan menyambutku. Aku dipeluk sekencang-kencangnya. “Sabar…sabar…Ibu meninggal dengan sangat tenang dan baik. Sabar…” katanya sambil menangis.

Aku langsung masuk rumah dan berjalan mendekati peti jenazah Ibu. Aku melihat wajahnya yang putih dan tenang. Ingin sekali aku memeluk dan menciumnya. Tetapi aku ragu apakah itu diperbolehkan karena setahuku dilarang meratapi jenazah dengan berlebihan. Apalagi ibu sudah disucikan sedang kondisiku sangat kotor.

Mbak Yanti rupanya tahu keinginan dan keraguanku. “Boleh kok kalau ingin mencium Ibu,” katanya. Aku masih melihat beberapa orang yang ada di dekatku. Tidak ada yang menunjukkan tanda melarang. Aku pun mencium wajah ibu. Aku rasakan sangat dingin tubuhnya. Tetapi aku terus menciumnya. Sampai air mataku membasahi pipi beliau. Rasanya ingin sekali melihat Ibu membuka matanya. Tetapi itu jelas tidak mungkin.

Tidak banyak waktu. Aku hanya diberi kesempatan untuk menyolatkan dan setelah itu jenazah diberangkatkan. Ibu dimakamkan di Jlantir, dusun kelahirannya. Artinya berpisah dengan kuburan Bapak. Aku tidak begitu mempersoalkan itu. Aku yakin tidak ada bedanya. Hanya di kemudian hari menjadi agak repot kalau akan berziarah karena tidak bisa dilakukan secara bersamaan.

Ibu akhirnya dimakamkan. Aku sudah tak lagi menangis di kuburan itu. Aku hanya melihat dengan perasaan yang aneh. Tidak percaya ibu pergi selamanya. Seorang wanita yang menurutku hampir tak pernah melakukan kesalahan. Seorang perempuan tabah dan tak banyak menuntut. Bertahan dalam kemiskinan untuk anak-anaknya. Seorang wanita dusun dengan berbagai prestasi. Pergi ke luar negeri mewakili Indonesia, pergi ke Istana Negara, hingga menjadi finalis ibu teladan di kabupatenku.

Dan saat menulis inipun aku masih menangis. Selamat jalan wanita hebat…

BERSAMBUNG

Facebook Comments

Comments are closed.